Sabtu, 28 Desember 2013

Restorasi Ciliwung Dimulai dari Masjid Istiqlal 27 Desember 2013

Restorasi Ciliwung Dimulai dari Masjid Istiqlal
27 Desember 2013


GROUNDBREAKING DEMONSTRASI PROYEK RESTORASI SUNGAI CILIWUNG
Upaya Penyelamatan Sungai Ciliwung yang dimulai dari Masjid Istiqlal

sumber : Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia

Jakarta, 27 Desember 2013. Peletakan Batu Pertama Proyek Restorasi Sungai Ciliwung hasil kerjasam Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan, resmi dilakukan Jumat tanggal 27 Desember 2013. Kerjasama kedua negara ini bertujuan untuk memulihkan kualitas Sungai Ciliwung agar lebih bersih dalam waktu yang lebih cepat. Pengalaman Korea selama 20 tahun menangani pemulihan kualitas Sungai Han menjadi pembelanjaran bagi Indonesia dalam merubah sungai yang kotor dan penyebab banjir menjadi sungai yang bersih dan pemanfaatan menjadi ruang publik.

Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam sambutannya menyampaikan "Sungai yang bersih merupakan asset bagi kita untuk dapat menjamin kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.
Hanya dengan kerja keras, komitmen dan kerjasama dengan seluruh pihak, sungai akan menjadi lebih baik. Langkah awal pemulihan Sungai Ciliwung Masjid Istiqlal,  dimana kegiatan besar ini meliputi upaya Restorasi Sungai , pembuatan Instalasi Pengolah limbah dan pembangunn Eco Education Center".
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Restorasi Sungai Ciliwung ini akan meliputi perbaikan sungai sepanjang 470 m secara ekologis seperti pengerukan lumpur sebanyak 20.000 ton, pemasangan pintu air serta perbaikan bantaran sungai dengan menggunakan tanaman (wetland). Pembuatan Instalasi Pengolah Limbah dengan kapasitas IPAL 500M3/hari dilakukan untuk memastikan limbah yang dibuang ke sungai seluruhnya diolah terlebih dahulu. Selain itu, Demonstrasi proyek ini jiga akan menjadi Eco Education Center yang menjdi pusat eukasi masyarakat untuk mempelajari restorasi sungai.
Pemilihan lokasi restorasi sungai ciliwung di maid Istiwlal yang dekat dengan gereja Katedral maupun istana presiden, menjadi sangat startegis dimana lokasi tersebut mendapat kujungan lebih dari 12 juta pengunjung setiap tahunnnya termasuk tamu-tamu negara. Hal ini akan memberikan kesan baik bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.
Apresiasi ditujukan kepada pemerintah Korea Selatan yang menunjukkan kerjassamanya yang baik dalam mewujudkan Demonstrassi Proyek Restorasi Sungai Ciliwung ini. Kegiatan ini adalah tindak lanjut penandatanganan MoU antara Kemetrian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia dengan Kementrian Lingkungan Hidup Korea Selatan, bersama Korea Enviromental Industry and Technology Institute (KEITI) dan The Korea International Cooperation Agency (KOICA) yang dimulai tahun 2012. Besar investasi dalam proyeksi ini terdiri dari : (i) bantuan Kementrian Lingkungan Hidup Republik Korea Selatan untuk desai dan bantuan teknis sebesar USD 2 juta, (ii) bantuan KOICA untuk konstruksi sebesar USD 5 juta, dan (iii) Kementrian Lingkungan Hidup Republlik Indonesia sebesar Rp 10 Milyar sebagai pendamping yang untuk memastika program ini sesuai keinginan pihak Indonesia.
Upaya pemulihan Kualitas Sungai Ciliwung yang termasuk kategori tercemar berat mulai dari hulu sampai dengan hilir perlu melibatkan berbagai pihak. Untuk itu Pemerintah Indonesia yang meliputi KLH, Kementrian Pekerjaan Umum, BAPPENAS, Kementrian Agama dan Pemerinth Provinsi DKI akan terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti masyarakat, paar pakar sungai , pelaku usaha termasuk dengan negara-negara sahabat untuk mengelola sungai di Indonesia dengan baik.

Jumat, 27 Desember 2013

"Pemimpin Daerah Harus Punya Komitmen Bersama Memulihkan Ciliwung" RILIS PERS NGARIUNG CILIWUNG

NGARIUNG CILIWUNG "Ngurus Ciliwung Mesti Bareng-Bareng"
Kp. Gelonggong Desa Kedung Waringin
Kec. Bojonggede Kab.Bogor
29 Desember 2013 

RILIS PERS NGARIUNG CILIWUNG 29 Desember 2013

Bogor, 27 Desember 2013- 

Seperti biasa, menjelang akhir tahun warga Jakarta akan mulai dihantui banjir yang berasal dari luapan Sungai Ciliwung. Untuk mengantisipasi banjir yang melanda ibu kota negara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan menggandeng banyak pihak melakukan upaya pemulihan Sungai Ciliwung di Jakarta. Upaya pengerukan, penguatan tebing sungai, tanggul, penyodetan Kali Ciliwung dan relokasi ribuan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung terus dilakukan. Upaya tersebut merupakan bagian dari restorasi ekosistem Sungai Ciliwung yang mestinya dilakukan dari hulu sampai hilir.

Tidak ingin melihat warga Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjuang sendiri dalam upaya restorasi Sungai Ciliwung, berbagai Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak sampai dengan Jakarta turut mendorong dan mengajak masyarakat di sepanjang Ciliwung dan pemerintah daerah untuk mendukung restorasi ekosistem di Jawa Barat yang merupakan kawasan tengah dan hulu sungai Ciliwung.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung di akhir tahun 2013 ini adalah mengadakan kegiatan “Ngariung Ciliwung” yang mengundang Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok. Kegiatan Ngariung (berkumpul) ini akan dilakukan pada Minggu pagi, tanggal 29 Desember 2013 di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Komunitas Ciliwung mengajak semua pihak baik dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup, BPDAS Citarum Ciliwung dan pihak swasta, serta masyarakat luas untuk berkumpul bersama di Bojong.

Muhamad Muslich dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, yang juga Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal untuk mendukung restorasi Sungai Ciliwung. “Tidak mudah merestorasi sungai. Kita belum punya contoh. Untuk itu perlu dilakukan secara bersama-sama. Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung” tegasnya.

Muslich yang mewakili Komunitas Ciliwung lainnya berharap Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok bisa hadir dalam acara Ngariung Ciliwung nantinya. “Surat undangan sudah kami berikan langsung kepada para pemimpin daerah ini. Semoga saja mereka berkenan hadir. Mulai tahun depan di 2014 kita bisa bersama-sama merestorasi Sungai Ciliwung. Indonesia butuh model pengelolaan sungai yang lebih baik. Saya pikir para pemimpin kita perlu menularkan semangat pemulihan tersebut kepada masyarakat luas” ungkap Muslich.

KONTAK

M. Muslich, Koordinator Kegiatan “Ngariung Ciliwung”

mobile phone: 0813 812 34648, e-mail: muslich.ecology@gmail.com

Leoni Rahmawati, permintaan video dan dokumentasi

mobile phone: 0821 243 82000, e-mail: leonirahmawati@gmail.com 

CATATAN UNTUK EDITOR:

· Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Provinsi DKI Jakarta. 

· Kegiatan Ngariung Ciliwung diinisiasi oleh Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Gadog, Bogor, Cilebut, Bojong Gede, Depok, dan Condet. Berkolaborasi dengan Mapala Universitas Indonesia, Ciliwung Institute, Forum Pengurangan Resiko Bencana Kabupaten Bogor, Greeneration Indonesia, Green Teacher Indonesia, Urban Studies Universitas Indonesia, P4W IPB, BPDAS Citarum Ciliwung, Gerakan Ciliwung Bersih, Dana Mitra Lingkungan, Danone Aqua, dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

· Komunitas Ciliwung adalah individu, kelompok, organisasi berbadan hukum, dan masyarakat lokal di sepanjang Sungai Ciliwung yang peduli terhadap kelestarian Sungai Ciliwung. Saat ini sudah ada 21 Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Bogor sampai dengan Muara Ciliwung, Jakarta.

· Restorasi ekosistem sungai merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi dan struktur sungai seperti sedia kala. Fungsi sungai yang menjadi prioritas untuk dipulihkan adalah kualitas air. Kementerian Lingkungan Hidup (2011) menyatakan bahwa sebagian besar parameter Kriteria Mutu Air (KMA) Sungai Ciliwung tidak memenuhi kelas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Daya tampung air Sungai Ciliwung juga perlu dipullihkan untuk dapat menampung volume air pada saat musim hujan. Pemullihan sungai dilakukan berdasarkan pendekatan ekosistem, dimana pertimbangan ekologi diprioritaskan untuk menjaga kelestarian sungai. Vegetasi di kanan-kiri sungai (disebut riparian) merupakan vegetasi yang perlu dipertahankan keberadaanya, dipulihkan, dan ditingkatkan kualitas dan kauntitasnya di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.


Kamis, 26 Desember 2013

DIVISI

Sekolah Alam

Sekolah Alam Ciliwung didirikan pada Juni 2005.

          Inilah bantaran sungai Ciliwung sekitar tahun 1970'an di salah satu kawasan Jakarta Timur. Air mengalir dengan deras di sungai yang masih lebar dan dalam, sementara pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Kini sulit mencari bantaran sungai yang demikian. Lantaran makin banyak dihuni manusia yang menjadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi perkampungan. Tidak heran bila 13 sungai yang mengalir di Jakarta, bukan saja makin dangkal, tapi makin mengecil kelebarannya. Banjir pun tiap saat makin meluas.
           Melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini, sejumlah anak di Condet, Jakarta Timur mendirikan 'Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung, Condet.'' Dengan motto : 'Sebatang pohon seribu kehidupan', para anak muda yang dipimpin Abdulkadir Muhammad dan Budi Setija, telah mengamankan sekitar 20 hektare bantaran sungai Ciliwung di kawasan Condet.
            Setelah bekerja tanpa mengenal lelah selama enam tahun, kini hasilnya mulai terlihat. Di markasnya di tepi Ciliwung di Balekambang, mereka menyiapkan ribuan pembibitan berbagai budidaya tanaman, khususnya duku, salak dan melinjo. Ketiga tanaman khas Condet ini, kini semakin langka akibat pesatnya pembangunan perumahan. Sementara, pemborong makin bergairah membangun Condet, yang luasnya 582.450 hektar.
Akibat gagalnya Condet dijadikan sebagai cagar budaya buah-buahan, menurut Abdulkadir dan Budi, ratusan petani buah yang tidak lagi memiliki dan berganti profesi, ingin bekerja kembali. 'Untungnya sekitar 80 persen daerah bantaran sungai masih merupakan lahan kosong dan kebun yang tidak terawat,''ujar Budi. ''Inilah yang ingin diupayakan sebagai lahan konservasi oleh Wahana Komunitas Sungai Ciliwung Condet,'' ia menambahkan.
            Di sini kedalaman sungai masih ada yang mencapai 15 meter. Sekalipun terjadi penyempitan 12 meter, lebar sungai masih mencapai 30 meter. Yang juga perlu diacungkan jempol, dari belasan muda-mudi yang ikut terjun di wahana itu adalah mereka mengadakan Sekolah Alam 'Sawung' (Sekolah Alam Ciliwung). Para siswanya berusia tujuh hingga 12 tahun tiap Jumat.
            Di sinilah anak-anak diajar mencintai lingkungan dalam bentuk presentasi, diskusi, kunjungan lapangan, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Di bandaran yang telah disulap menjadi lingkungan yang sejuk dan asri itu, disediakan perpustakaan, kegiatan berperahu menyusuri sungai sejauh 7 km, dan jalan santai di tengah-tengah pepohonan hijau royo-royo. Kesemuanya merupakan bagian dari 'Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.' Karena itu, tidak heran pada hari-hari Ahad dan libur, anggota Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet yang datang mencapai 20-an orang.
Permasalahannya adalah, tidak adanya mushola untuk pengunjung. Padahal, seperti dijelaskan Abdulkadir, biayanya hanya sekitar Rp 10 juta, di samping empat MCK (toilet). Di Condet sekarang ini ada ratusan perusahaan penampung tenaga kerja (TKW dan TKI) serta puluhan pengembang. Mungkin di antara mereka ada yang terketuk hatinya untuk membantu, kata Abdulkadir.
             Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai 'Maskot DKI Jakarta.' Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara 'Burung Elang Bondol' sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya 'Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet'. 'Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata,' ujar Budi.
(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Edukasi tentang lingkungan itu TIDAK PENTING! Bila hanya dilakukan di dalam sejuknya kelas ber-AC dan perpustakaan yang hening dan nyaman. Karena edukasi tanpa aksi hanyalah ilusi.



Ciliwung Nursery

Ciliwung Nursery merupakan program komunitas Ciliwung bidang  pemberdayaan ekonomi masyarakat yang digulirkan pada beberapa wilayah (komunitas) DAS ciliwung, tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk mengenal, mencintai dan ikut melestarikan keragaman jenis tanaman disekitar (lokal), serta terpeliharanya keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada, agar dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Bank Pohon Lokal, merupakan sarana Ciliwung Nursery dalam melaksanakan program pengadaan melalui pembelian bibit dari masyarakat, mulung biji/bibit tanaman, penyemaian, sumbangan masyarakat serta mendistribusikan kembali bibit pohon lokal ke masyarakat secara cuma-cuma di sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung (Sirkulasi). Saat ini bibit yang tersedia di Ciliwung Nursery kebanyakan dari jenis pohon berbatang keras seperti pohon Nangka, Bacang, Kemang, Manggis, Pucung, aneka jenis bambu dan lain-lain, koleksi tanaman yang telah berhasil dikumpulkan sebanyak 52 jenis tanaman  dan berjumlah 8000 pohon lebih.



Ciliwung Adventure

Titik wisata kami sepanjang Sungai Ciliwung terletak di lima segmen, dari mulai hulu Titik Satu Ciliwung Cisampay hingga hilir Condet di tengah keramaian kota Jakarta.
Penting untuk berinteraksi dengan alam kita...
Sungai sebagai tolak ukur peradaban manusia wajib untuk kita kenali, belajar dan berpetualang di sungai memberikan kita sebuah pengalaman yang takkan terlupakan.
Lebih jauh mengenali permasalahan sungai adalah membentuk pribadi-pribadi yang sadar akan keberlangsungan hidup.



Ciliwung Art Studio
Ciliwung Art Studio merupakan suatu wadah dan perusahaan kreatif dan profesional bagi para orang-orang yang berpikiran "out of the box" sekaligus concern di bidang lingkungan yang bertemu dan bekerjasama dalam Komunitas Ciliwung. Kami bekerja melalui berbagai media campaign untuk menyuarakan isu-isu lingkungan yang terjadi.

Setelah sekian lama bekerjasama dan prihatin atas hidup dan kehidupan volunteer, maka kami membuat suatu wadah usaha untuk menutupi beban operasional atas program-program konservasi sungai Ciliwung yang pada saat itu masih bernama Ciliwung Studio.

Ciliwung Studio sendiri berdiri pada Selasa 11 Desember 2012 setelah 1 bulan pelaksanaan peringatan Hari Ciliwung, yang beranggotakan para aktivis penggiat lingkungan yang berdomisili di Jabodetabek dan berlokasi di Condet, Jakarta Timur.
Lalu pada bulan Juli 2013 berganti nama menjadi Ciliwung Art Studio.

Ciliwung Art Studio sendiri fokus utamanya kepada Graphic Design dan Printing, meliputi merchandise dan kaos-kaos yang dijual di basecamp Komunitas Ciliwung.

Misi kami adalah menciptakan inovasi kreatif untuk mendukung semua aspek kegiatan Komunitas Ciliwung dan membuka & menambah wawasan dalam creative mind serta mengamalkan dalam aktifitas pelestarian lingkungan.

Senin, 23 Desember 2013

Undangan NGARIUNG CILIWUNG "Ngurus Ciliwung Mesti Bareng-Bareng"

Denah Lokasi Ngariung 29 Desember 2013
Ciliwung Kampung Gelonggong - Bojojonggede
Kabupaten Bogor

Ngariung
 Ciliwung
Silaturahmi Para Pihak untuk Memperkuat
Upaya Pelestarian dan Pemulihan Sungai Ciliwung


Latar Belakang

Ciliwung merupakan ekosistem sungai yang selalu menjadi bahan pembicaraan banyak pihak.  Sungai yang membelah Ibu Kota Negara Republik Indonesia itu dianggap sebagai penyebab banjir yang melanda ibu kota hampir setiap tahun.  Kerugian banjir yang ditimbulkan dalam aspek ekonomi, sosial, kesehatan, dan lingkungan sangat besar.  Sayangnya, pada situasi tersebut para pihak di bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Ciliwung masih menghadapi tantangan bagaimana agar integrasi pengelolaan Ciliwung dapat terwujud.  Sungai Ciliwung mengalir melewati dua provinsi, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri, Sungai Ciliwung mengalir melewati Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.

Berbagai program, proyek, gerakan, dan inisiatif dari para pihak untuk mendukung kelestarian Sungai Ciliwung dirasakan semakin meningkat.  Hal tersebut dikarenakan semakin meningkatnya komitmen dan kesadaran para pihak dalam mendukung kelestarian Sungai Ciliwung.  Meski demikian, upaya-upaya yang dilakukan masih memerlukan kerjasama dan integrasi di antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.  Pemerintah DKI Jakarta, misalnya telah secara intensif melakukan berbagai program untuk mendorong upaya pemulihan Sungai Ciliwung.  Sebagai contoh program penataan bantaran Sungai Ciliwung, pemulihan situ atau waduk, dan pengendalian terhadap sedimentasi dan sampah.  Bagaimanapun, kita harus mengapresiasi dan mendukung program-program yang telah dilakukan tersebut. Pemerintah daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat juga telah melakukan berbagai program untuk mendukung pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung tersebut.   Hal ini dikarenakan pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang secara administrasi meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok, memiliki peran strategis dalam pengelolaan Sungai Ciliwung.  Oleh karena itu diharapkan masing-masing wilayah dapat terus meningkatkan sinergisitas dan kerjasama dalam mendukung dan memperkuat pengelolaan Sungai Ciliwung.

Sementara itu, Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Gadog, Bogor, Cilebut, Bojong Gede, Depok, dan Komunitas Ciliwung di Jakarta telah menjalin jejaring dalam mendukung upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.  Berbagai kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem Sungai Ciliwung.  Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendukung program-program yang menjadi bagian dari visi dan misi masing-masing kota dan kabupaten.  
Kegiatan unik dan positif yang telah dilakukan secara rutin diantaranya; penataan sempadan untuk ekowisata di Puncak, patroli perlindungan ikan, lomba mancing, mulung sampah setiap Sabtu, lomba mulung sampah tahunan, pengelolaan sampah plastik, pembibitan dan penanaman pohon, pengelolaan sempadan Ciliwung, Susur Ciliwung, Piket Ciliwung, Bebersih Ciliwung, Sekolah Alam, Riset Ciliwung, dan berbagai kegiatan lainnya.  Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan publik yang lebih luas.

Untuk memperkuat berbagai inisiatif dan program yang telah dilakukan, Komunitas Ciliwung berkolaborasi bersama para pihak berencana mengadakan Ngariung Ciliwung di tepian Sungai Ciliwung.  Ngariung Ciliwung diharakan dapat memberikan apresiasi dan semangat kepada masyarakat yang tinggal di bantaran Ciliwung yang telah berusaha mendukung pelestarian Ciliwung.  Ngariung Ciliwung juga diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan komitmen antar pemerintah daerah di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Jakarta dalam pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.

Tujuan
1.     Mempertemukan ide-ide kreatifinisiatif, dan unik yang dapat mendukung program-program pemerintah daerah dalam upaya pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.
2.     Memperkuat kerjasama dan sinergisitas di antara pemerintah daerah dan komunitas ciliwung pada wilayah administrasi yang dilintasi Sungai Ciliwung.
3.     Meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya memulihkan dan melestarikan Sungai Ciliwung.

Output
1.     Langkah-langkah tindak lanjut hasil Sarasehan yang dapat menjadi panduan bagi upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.
2.     Nota kesepakatan di antara para pihak dalam mendukung integrasi upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.

Tema
Tema kegiatan ini adalah “Ngurus Ciliwung Mesti Bareng-Bareng”.

Waktu dan Tempat
Ngariung Ciliwung dilakukan di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor pada hari Minggu tanggal 29 Desember 2013 pukul 07.00 WIB –selesai.

Undangan Peserta
1.     H. Ahmad Heryawan, Lc., Gubernur Jawa Barat
2.     Drs. H. Rachmat Yasin, MM., Bupati Bogor
3.     Drs. H. Diani Budiarto, M.Si., Walikota Bogor
4.     Dr. Bima Arya, Walikota Bogor terpilih periode 2014-2019
5.     Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, M.Sc., Walikota Depok
6.     Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, KLH
7.     Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum
8.     Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat
9.     Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
10.  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat
11.  Kepala BPDAS Citarum Ciliwung, Kementerian Kehutanan
12.  Kepala  BBWS Ciliwung Cisadane, Kementerian Pekerjaan Umum
13.  Dinas atau instansi terkait di lingkungan pemerintah daerah kabupaten dan kota
14.  Dr. Erna Witoelar, Ketua Gerakan Ciliwung Bersih
15.  Dr. Tarsoen Waryono, Universitas Indonesia
16.  Dr. Komara Jaya, Universitas Indonesia
17.  Dr. Ernan Rustiadi, Institut Pertanian Bogor
18.  Greeneration Indonesia
19.  Komunitas Ciliwung Hulu-Hilir
20.  Masyarakat Kampung Glonggong, Bojong Gede
21.  Swasta
22.  Para pihak lainnya yang terkait.

23.  Umum


Bentuk Acara
Ngariung Ciliwung dilaksanakan dengan suasana keakraban, ramah tamah, penuh apresiasi, dan sederhana.  Bentuk acara yang akan dilakukan adalah kegiatan yang selama ini telah menjadi kegiatan rutin Komunitas Ciliwung yaitu:
1.     Mulung Sampah
Sampah merupakan salah satu masalah terbesar Sungai Ciliwung.  Berdasarkan riset Komunitas Ciliwung tahun 2011-2013, terdapat 251 titik penumpukan sampah di sepanjang Sungai Ciliwung mulai dari Bojong Gede sampai dengan Condet.  Setiap tahun, Komunitas Ciliwung melalui kegiatan rutin dan sukarela paling tidak telah mengangkat  5.000 karung sampah anorganik dari Sungai Ciliwung.  Sampah tersebut ada yang merupakan sampah baru, ada pula sampah yang mengendap di sungai dan tersangkut di tepian sungai.   Mulung Sampah bertujuan untuk memberikan penyadaran dan efek psikologis kepada masyarakat luas agar tidak membuang sampah ke Ciliwung.
2.     Susur Sempadan Cilwung yang Asri
Vegetasi di sempadan sungai berperan penting dalam menyaring masuknya tanah erosi dan material sampah ke badan sungai.   Sayangnya banyak ditemukan pelanggaran terhadap sempadan sungai.  Sempadan sungai umumnya dialih fungsikan untuk permukiman.  Dampak lanjutan dari alih fungsi tersebut adalah sedimentasi, menumpuknya sampah, dan masuknya limbah cair ke badan sungai.
Namun demikian, masih ada harapan untuk menyelamatkan vegetasi alami di sempadan Sungai Ciliwung.  Vegetasi sempadan atau yang dikenal dengan ekosistem riparian masih terdapat dalam kodisi yang baik khusunya dari mulai Cilebut sampai dengan Kota Depok.  Penyelamatan ekostem riparian bukan saja akan menjaga sungai, tetapi keberadaannya dapat menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati di dalamnya.  Ekosistem riparian juga dapat berkontribusi bagi pencapaian target prosentasi Ruang Terbuka Hijau di suatu kota/kabupaten apabila dapat dikelola dengan optimal, misalnya untuk ekowisata. 
Susur hutan bambu bertujuan untuk meperlihatkan kondisi ekositem riparian alami dan mengapresiasi model pengelolaannya oleh Komunitas Ciliwung, khususnya di Bojong Gede.  Peserta akan menyusuri jalan setapak di sempadan sungai yang alami menikmati keteduhan ekosistem riparian. 
3.     Arung Ciliwung
Arung Ciliwung merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung.  Arung Ciliwung tersebut dilakukan untuk observasi kondisi Ciliwung dan ekosistem riparian di sepanjang aliran.  Arung Ciliwung dilakukan dengan prosedur aman (safety procedure) dan diikuti oleh berbagai pihak.  Temuan dari kegiatan Arung Ciliwung disampaikan kepada pihak yang terkait.
Kegiatan Arung Ciliwung kali ini direncanakan akan melewati rute Jembatan Cilebut atau Batu Ampal menuju lokasi Sarasehan.  Arung Ciliwung ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada peserta kondisi sempadan melalui jalur sungai.
4.     Sarasehan
Sarasehan ini akan dihadiri oleh pemimpin pemerintah daerah, kementerian dan instnasi pemerintah yang terkait, akademisi, Komunitas Ciliwung, masyarakat setempat, dan swasta.  Kesempatan ini digunakan untuk saling memperkuat kerjasama di antara wilayah yang dilalui Sungai Ciliwung.  Sarasehan juga akan digunakan untuk menampung aspirasi, masukan, untuk mendukung pengatan kerjasama dan integrasi pengelolaan Sungai Ciliwung di masa yang akan datang. 
Sarahen akan dipandu oleh fasilitator yang berpengalaman dalam isu pengelolaan DAS dan juga pegiat lingkungan hidup.  Pada akhir sarasehan diharapakan dapat muncul kesepahaman dan kesepakatan di antara pemimpin daerah dalam mendukung kelestarian Ciliwung.  Sarasehan diharapkan juga dapat menggali ide-ide kreatif yang implementatif sebagai tindak lanjut upaya pelestarian dan pemulihan ekosistem Sungai Ciliwung. Para pihak yang hadir juga diharapkan memiliki kesepahaman untuk memperkuat kerjasama pengelolaan Sungai Ciliwung.
5.     Biotilik, Pengenalan ikan asli Ciliwung, dan menanam pohon
Biotilik merupakan kegiatan pengamatan kualitas perairan sungai dengan menggunakan indikator biologi.  Sejumlah guru yang terlatih dan difasilitasi oleh Green Teacher akan melakukan biotilik di lokasi acara.  Biotilik akan melibatkan siswa sekolah setempat.  Selain itu, Komunitas Pemancing Ikan Ciliwung akan memperkenalkan ikan-ikan asli Sungai Ciliwung.  Komunitas Ciliwung Bojong juga menyediakan pohon lokal di persemaian untuk ditanam di beberapa titik di sekitar lokasi Ngariung Ciliwung.
Jadwal Acara (tentatif)
Jam
Kegiatan
Lokasi
Keterangan
Kegiatan lainnya
07.00-08.00
Registrasi peserta
Tepian Sungai Ciliwung Kampung Glonggong, Bojong Gede


08.00-09.00
Pembukaan Ngariung Ciliwung dan mulung sampah Ciliwung
Tepian Sungai Ciliwung Kampung Glonggong, Bojong Gede
Peserta yang hadir dalam acara Ngariung akan memulung sampah di pinggir sungai
1.   Biotilik
2.   Penanaman pohon lokal
3.   Pengenalan ikan asli
4.   Pameran foto dan poster Komunitas Ciliwung
09.00-10.00
Susur sempadan Ciliwung yag asri
Hutan Bambu Ciliwung Bojong Gede dengan rute sepanjang 1 km
Peserta berjalan santai menyusuri jalan setapak di sempadan Ciliwung yang asri menuju titik kegiatan Biotilik dan Pameran Ikan Asli.  Pada titik tersebut, secara terbatas peserta dapat memilih menggunakan perahu karet atau berjalan kaki menuju lokasi Sarasehan
10.00-13.00
Sarasehan yang dipandu oleh fasilitator
Lokasi sarasehan
Sarasehan bersifat interaktif dengan suasana akrab

Pembacaan rumusan sarasehan dan nota kesepakatan para pihak

Penutupan sarasehan dan do’a
13.00-13.30
Makan siang


13.30 - selesai
Ramah tamah dan pameran
Lokasi sarasehan


Catatan: rute kegiatan dan urutan acara dapat berubah sesuai dengan kondisi di lapangan
Keterangan:  Arung Ciliwung menggunakan perahu karet akan menempuh Rute Jembatan Cilebut menuju Kampung Glonggong (lokasi pusat acara).  Waktu tempuh perjalanan di air sekitar 1 jam.   Tempat terbatas.  Bagi yang berminat mengikuti rute tersebut agar menghubungi Saudara Gus Firman 0856 9750 5174 atau Saudara Ismatullah 0812 8059 8217.  Mohon bisa hadir tepat waktu.
Untuk informasi lebih lanjut

Sekretariat Pusat Panitia Ngariung Ciliwung
Gedung Pusgiwa Lantai 1
Sekretariat Mapala UI
Kampus UI Depok

Informasi dan komunikasi lanjutan di masing-masing wilayah juga dapat dilakukan dengan Komunitas Ciliwung di setiap segmen.

Sekretariat Pusat
Kota Depok
Kabupaten Bogor
Kota Bogor
M. Muslich
Koordinator Acara
KPC Bogor
08138 1234 648

M. Ismatullah
Wakil koordinator
0812 8059 8217
Mapala UI

Sudirman Asun
0812 1212 5108
Ciliwung Institute
Taufiq D. S
0812 9967 861

M. Muslich
Koordinator Acara
08138 1234 648

Tedja Kusuma
0852 1315 4918

Een Irawan Putra
08138 8041 414


Akses menuju lokasi
1.     Dari Jalan Raya PEMDA Karadenan, masuk melalui komplek perumahan GAPERI menuju Jembatan Pagersi Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin.
2.     Dari Jalan Baru Kota Bogor atau dari Jalan Tegar Beriman Cibinong masuk melalui jalan raya CILEBUT-BOJONG GEDE, lalu masuk Jl. Haji Wahid, Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin.
3.     Akses terdekat dari Stasiun Kereta Api Bojong Gede, naik ojek Rp. 7000 masuk melalui Jl. Haji Wahid menuju Sungai Ciliwung, Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin.
Lain-lain

Peserta sebaiknya menggunakan pakaian olah raga atau casual, bersepatu dan disarankan membawa payung.

Hari Ciliwung

Hari Ciliwung
Klik pada gambar

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top