Minggu, 30 November 2014

Pak Jokowi Pilih Paket A atau Paket B ? "Ciliwung 5 Tahun Dari Hari Ini" #HariCiliwung1111

11 November 2014
Dari Sidang MPR Ciliwung: Paket A vs Paket B

Syahdan para pemilik kepentingan di Ciliwung bersepakat membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Ciliwung (MPR Ciliwung).
Dalam salah satu sidang terpentingnya pada tahun ini, para anggota MPR Cilwung diharuskan untuk memilih antara paket A atau paket B.
Paket di sini bukan memilih pimpinan seperti MPR di Senayan. Pimpinan sidang di MPR Ciliwung sudah terpilih 5 orang (mewakili 5 segmen) yang terpilih secara musyawarah.
Sebelum memilih Paket (A atau B), Pimpinan Sidang MPR Ciliwung menjelaskan beberapa fakta sebagai berikut:
Pertama, banjir di Ciliwung tidak hanya terjadi di hilir saja seperti yang rame diberitakan media massa dan diliput televisi secara langsung. Banjir di Ciliwung terjadi juga di hulu Ciliwung seperti yang terjadi di Sungai Cisarua awal tahun 2014.
Kedua, di musim kemarau, warga di Puncak dan juga sepanjang sungai Ciliwung mengalami krisis air. Katulampa, yang sering menjadi indikator bagi warga Jakarta ketika banjir, ketinggian muka airnya di musim kemarau seperti saat ini 0 cm. Di sepanjang Ciliwung, sebagian warga yang mengandalkan air tanah, muka air tanahnya turun dan tidak bisa dijangkau oleh pipa pompa airnya. Akibatnya warga rame-rame turun ke Ciliwung, untuk mandi, cuci, buang air besar, wudhu, dsb. Bahkan di tahun 2009, akibat krisis air di musim kemarau, terjadi kejadian luar biasa (KLB) diare di Kecamatan Cisarua dan Megamendung.
Ketiga, di PP No. 38 / 2011 tentang Sungai ada amanah dimana para pemilik kewenangan dan pemilik kepentingan sungai harus menjaga / melestarikan fungsi sungai dan fungsi sempadan. Di PP 26/2008 tentang RTRW Nasional, sempadan sungai merupakan kawasan lindung nasional. Dan, di Perda DKI No.1 / 2012 tentang RTRW DKI Jakarta 2030, kawasan sepanjang Ciliwung ditetapkan sebagai kawasan strategis untuk kepentingan lingkungan, antara lain, karena aspek keanekaragaman hayatinya.
Nah, paket A dan paket B adalah pilihan untuk alokasi anggaran sekitar Rp. 5 triliun apakah akan dipakai untuk memilih kegiatan paket A atau paket B dengan segala manfaat dan konsekwensinya.
Paket A adalah pilihan kebijakan mengatasi banjir Ciliwung dimana anggaran Rp. 5 triliun itu dipakai untuk membangun prasarana pengendali banjir yang dibangun di alur sungai Ciliwung. Sedangkan Paket B adalah menggunakan anggaran Rp. 5 triliun itu untuk membangun prasarana pengendali aliran permukaan yang dibangun di seluruh wilayah DAS Ciliwung.
Jika pilihannya Paket A, maka :
- banjir di hilir Ciliwung bisa teratasi (frekwensinya makin berkurang)
- paket ini tidak bisa menyelesaikan masalah banjir di hulu Ciliwung.
- paket ini juga tidak bisa mengatasi krisis air yang dialami oleh warga hulu dan di sepanjang sungai Ciliwung.
- paket ini juga merusak fungsi sungai dan merusak fungsi sempadan sungai (karena sungai dibeton).
Jika Paket B pilihannya, maka:
- masalah banjir di hilir Ciliwung bisa teratasi
- masalah banjir di hulu juga bisa teratasi
- masalah krisis air bisa teratasi
- fungsi sungai dan fungsi sempadan tetap terjaga.
Pemerintah SBY saat ini, sebagai pemilik kewenangan, sudah memilih paket A.
Nah, jika Anda sebagai anggota MPR Ciliwung, paket mana yang Anda pilih?
Lalu, menurut Anda, Pemerintahan Jokowi #KabinetKerja nanti akan memilih paket apa ya..........

( Tim Pengendalian Banjir Komunitas Ciliwung )

Seperti apakah ciliwung masa depan yang anda impikan atau inginkan...
Apakah yang seperti no 1 atao no 2, make your choice

Penolakan Betonisasi Kali Pesanggrahan oleh Bang Idin Kelompok Tani Sangra Buana
( Sumber Foto : Dyanz Putera )






















Piagam Ciliwung 11 November 2014 #HariCiliwung1111

Nota kesepahaman Para Pihak dalam Pengelolaan Kawasan Puncak sebagai Hulu Sungai Ciliwung

Bahwa seluruh kawasan sepanjang Sungai Ciliwung adalah sebuah kesatuan yang saling mempengaruhi antara daerah hulu hingga hilirnya, sehingga perlu dikelola secara terpadu melintasi batas-batas administrasi,

Bahwa Sungai Ciliwung hingga saat ini senantiasa memberikan manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi yang sangat bernilai bagi peradaban manusia yang dilalui dan ditopangnya,

Bahwa Kawasan Puncak sebagai hulu Sungai Ciliwung menanggung permasalahan-permasalahan yang berat dan bersifat multidimensi, hingga muaranya di hilir, sehingga memberikan ancaman serius bagi keberlanjutan fungsinya,

atas dasar-dasar tersebut, kami bersepakat dan berkomitmen sepenuhnya:

1. Memahami bahwa biaya dan manfaat atas keberadaan dan pengelolaan Sungai Ciliwung adalah biaya dan manfaat bersama, sehingga perlu dikembangkan mekanisme tanggung renteng atas biaya dan resiko tersebut bagi kemaslahatan umum.

2. Mengelola Sungai Ciliwung dalam keterpaduan yang harmonis dan melintasi batas-batas administrasi, baik melalui kelembagaan yang telah ada ataupun yang hendak dibentuk kemudian, dengan menyesuaikan atas kebutuhan dan sumber daya yang tersedia,

3. Mendorong dan memfasilitasi inisiatif serta gerakan komunitas komunitas sehingga komitmen atas Sungai Ciliwung menjadi komitmen bersama yang mengakar kuat dari masyarakat,

4. Menghidupkan model-model pengelolaan sungai di berbagai titik lokasi sepanjang Sungai Ciliwung sebagai praktek pengelolaan lingkungan khususnya dalam menanggulangi permasalahan sampah dan penataan bantaran, agar dapat dijadikan teladan pengelolaan sungai dan lingkungan,

Kesepakatan dan komitmen ini, untuk selanjutnya, akan senantiasa menjiwai setiap kebijakan, rencana, program dan kegiatan yang kami lakukan, baik secara mandiri maupun bersama-sama.

Hulu Ciliwung, 11 November 2014

Yang Bersepakat dan Berkomitmen












Sinergi Pengelolaan Ciliwung Bergerak Dari Hulu #HariCiliwung1111

"Ciliwung 5 Tahun Dari Hari Ini" 


Puncak, 11 November 2014. Kawasan puncak adalah hulu berbagai  persoalan lingkungan sungai Ciliwung. Degradasi kawasan puncak dan menurunnya daya dukung lingkungan kawasan ini berdampak penting terhadap timbulnya berbagai persoalan lingkungan di hilir Sungai Ciliwung termasuk Kota Jakarta. Tingkat kerusakan Kawasan Puncak sebagai sumber dan penyedia air bagi jutaan manusia di Bogor, Depok, dan Jakarta sudah pada tahap yang sangat menghawatirkan. Puncak menjadi hulu sungai yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Ciliwung sebagai toilet dan tempat sampah terpanjang di dunia, Ciliwung merana.

Bergerak dari Hulu

Kawasan Puncak masih menjadi pilihan destinasi wisata yang sangat populer bagi warga Jakarta dan sekitarnya di akhir pekan dan hari libur. Kawasan ini juga populer setiap kali Jakarta tengah sibuk menghadapi banjir rutin yang datang pada puncak musim hujan di akhir dan awal tahun. Ada keniscayaan bahwa sebagian sumber utama banjir di Jakarta adalah karena datangnya “banjir kiriman” dari Bogor, utamanya dari kawasan Puncak. Oleh karenanya, kawasan ini sering dipersalahkan, sehingga sebagian mata para pengamat, media dan pejabat menunjuk dan menyalahkan hadirnya bangunan vila-vila liar serta berbagai pelanggaran tata ruang kawasan ini yang tidak kunjung terselesaikan. Polemik Kawasan Puncak ini seakan jadi ritual tahunan berita yang populer. Namun faktanya, permasalahan lingkungan di Kawasan puncak ini tidak kunjung padam tanpa solusi berarti dan memunculkan riuh berita musiman yang berulang tiap tahunnya.
Di penghujung tahun 2013 Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dengan didukung Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembongkaran vila-vila liar di tanah-tanah negara. Pembongkaran yang memang “sudah seharusnya” dilakukan ini menjadi berita hangat karena menjadi hal yang “tidak biasa” dan untuk pertama kalinya dilakukan dengan jumlah yang cukup masif. “Tidak biasa” karena sudah ada keniscayaan bahwa pemerintah tidak akan pernah memiliki kemampuan dan keberanian menaklukan para pemilik-pemilik vila yang banyak dimiliki para “elit” yang berpengaruh di negeri ini. Pembongkaran vila di Kawasan Puncak tampaknya akan menjadi “persoalan yang menyisakan persoalan baru” jika tidak disertai aksi yang menyeluruh. Pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa Kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila, jasa ojek bagi pengunjung vila, termasuk jual beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan. Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak ke arah hulu atau akar masalah. Solusi ke hulu diantaranya adalah menertibkan praktek jual beli tanah-tanah negara. Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai status tanah-tanah negara di kawasan ini.
Di tengah kesulitan baru akibat hilangnya sebagian sumber mata pencarian warganya pasca pembongkaran vila dan ditengah derasnya gempuran budaya “asing”, warga lokal Kawasan Puncak selalu memiliki mimpi lingkungan Puncak yang bersih dan lestari. Tumbuhnya kesadaran lokal akan kelestarian lingkungan ini kami rasakan ketika kami selama beberapa bulan terakhir menyertai masyarakat berembug mendiskusikan masa depan kawasan ini. Namun tumbuhnya kesadaran lingkungan ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan para pihak yang memiliki kewenangan diluar lokalitas mereka. Aksi masyarakat beberapa kampung di kawasan ini yang tergerak secara rutin memulung sampah sampah domestik, wisatawan, hotel-restoran di hulu-hulu sungai Ciliwung membutuhkan dukungan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Pemerintah Daerah, pengelola kawasan perkebunan serta pengusaha perhotelan dan restoran di kawasan ini dapat mendukung terbangunnya system pengelolaan sampah yang terintegrasi pada skala wilayah.
Menyadari itu semua, kami dari beberapa komunitas, akademisi dan pemerhati lingkungan merasa sebagai bagian dari persoalan ini berikhtiar memulai “gerakan dari hulu” dengan membentuk “Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak”. Konsorsium kami diinisasi oleh P4W IPB, Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat, Ciliwung Institute, Komunitas Ciliwung Puncak dan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Kami tidak tahu berapa persisnya kontribusi Kawasan Puncak terhadap persoalan lingkungan Sungai Ciliwung, Kota Jakarta dan sekitarnya. Tapi kami yakin bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan bergerak dari hulu dimana Kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung adalah salah satu hulu persoalan. Di kawasan hulu sungai ini kami juga mencoba melihat dan bergerak di hulu persoalan. Kami akan berusaha bergerak secara proporsional dalam tiga bentuk kegiatan, yakni riset, kampanye dan aksi nyata. Meski bergerak dari hulu, kami berkeyakinan bahwa pada akhirnya semua harus berujung pada aksi nyata.
Kajian desa secara partisipatif telah mengindentifikasi masalah pencemaran dan sumber daya air yang terjadi di Kawasan Puncak, Bogor, khususnya di Desa Tugu Selatan dan Tugu Utara. Masalah yang terkait dengan aspek pencemaran di antaranya bersumber dari sampah dan limbah cair. Beberapa penyebab timbulnya permasalahan tersebut di antaranya:
  1. Volume sampah yang besar berasal dari wisatawan, permukiman warga, hotel, dan tempat rekreasi
  2. Tidak tersedianya sarana fisik penampungan sampah yang memadai
  3. Pengangkutan sampah oleh petugas resmi tidak mencapai pedalaman permukiman
  4. Tidak adanya pengelolaan limbah cair komunal baik di publik maupun di permukiman masyarakat
  5. Perilaku hidup tidak ramah lingkungan
  6. Pelanggaran dan penguasaan terhadap sumberdaya air, misalnya penguasaan mata air dan pemagaran badan sungai.
Temuan tersebut diperkuat dengan hasil penelusuran sungai-sungai yang ada di Kawasan Puncak oleh Komunitas Peduli Ciliwung. Keberadaan sumber cemaran ditemukan tersebar di hulu sungai sampai pada batas hutan. Hilangnya ekosistem riparian akibat konversi perkebunan teh, infrastruktur wisata, dan permukiman warga menyebabkan hilangnya wilayah penyangga buffer antara sungai dan kawasan budidaya atau permukiman.
Dampak ekologi hilangnya ekosistem riparian diantaranya (1) berkurangnya resapan air sungai ke dalam tanah, (2) berkurangnya daya tahan tanah terhadap aliran permukaan (run off), (3) meningkatnya potensi longsor tebing sungai, dan (4) hilangnya jalur hijau sebagai habitat satwa liar. Dampak lainnya adalah hilangnya fungsi ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai. Aliran sungai menjadi tercemar karena adanya sampah dan limbah cair. Selain itu terdapat pula masalah yang terkait dengan penguasaan sumber daya air, misalnya sempadan sungai dan mata air oleh pihak tertentu. Hal tersebut menyebabkan warga kesulitan mendapatkan akses menuju sungai dan mata air. Air sungai tidak dapat digunakan lagi, sementara sumber air telah dikuasi oleh pihak tertentu.
Kami memahami bahwa masalah pencemaran dan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks. Penanganan masalah tersebut harus terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan.
Penanganan persoalan kebiasaan membuang sampah dan limbah ke Sungai Ciliwung juga perlu dimulai dari hulu Sungai Ciliwung di Kawasan Puncak. Upaya mengubah kebiasaan dan kemandirian masyarakat mengelola sampah memerlukan dukungan banyak pihak. Baik melalui penguatan kelembagaan, pengadaan fasilitas kebersihan dan pengolahan sampah/limbah hingga dukungan kebijakan pemerintah maupun pemuka agama.
Tedja Kusumah, penduduk yang bermukim di wilayah Puncak sangat gundah dengan kondisi ini. “Siapakah pemilik-pengelola tanah di wilayah ini dan untuk siapa sajakah atau untuk apa sajakah wilayah ini? Apakah hanya dijadikan wilayah wisata tanpa memperhatikan lingkungan? Apakah wilayah dan masyarakat setempatnya memang telah diposisikan untuk selalu menjadi Objek Penderita?,” katanya. Selanjutnya Tedja pun menambakan isu Ciliwung hanya ada di musim hujan, jika kemarau telah mulai Puncak pun akan dilupakan. Jika ini terjadi lagi, hal ini semakin membuatnya yakin bahwa wilayah dan masyarakat di Puncak hanya Objek Penderita dari gemerlapnya pembangunan.
 “Saat ini seharusnya bukan Pendapatan Asli Daerah yang menjadi prioritas melainkan lingkungan hidup karena Puncak adalah penyangga jutaan penduduk di JABODETABEK. Bagaimana bisa menjadi penyangga yang baik kalau untuk menyangga daerahnya sendiri sudah tidak mampu karena semakin berkurangnya daya dukung lingkungan”, lanjut Teja Kusumah yang saat ini juga aktif di Komunitas Ciliwung Puncak.

Kampanye dan Ajakan bergabung dalam aksi  bersama

Persoalan lingkungan di kawasan puncak membutuhkan pendekatan-pendekatan yang tepat dan menyentuh kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan penegakan hukum akan sia-sia jika tanpa disertai upaya menghidupkan aktivitas ekonomi lokal yang berkelanjutan. 
Gerakan aksi penyelamatan kawasan puncak adalah upaya untuk menghimpun partisipasi para pihak (pemerintah pusat dan daerah, masyarakat lokal, dunia usaha, dan akademisi) sesuai dengan kapasitasnya masing-masing di dalam penyelamatan keberlanjutan kawasan puncak. Kawasan puncak menyimpan berbagai peluang usaha bagi komunitas lokal yang lebih ramah lingkungan dan tidak berbasis pada eksploitasi sumberdaya fisik lingkungan. 
Perlu dukungan dari berbagai pihak dan kebijakan sinergis dari beberapa daerah dan pemangku kebijakan yang memiliki kepentingan terhadap pengelolaan DAS Ciliwung, agar inisiatif ini dapat terus berjalan, dan tidak terjebak pada “semangat musiman”ketika kawasan Puncak menjadi perhatian dan pembicaran hanya ketika musim penghujan dan banjir di Jakarta saja.
Hari Ciliwung 2014 menjadi bahan renungan kita untuk bersama-sama berbuat baik terhadap Ciliwung dan anak-anak sungainya. Semangat konservasi berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam normalisasi Ciliwung.
Konservasi Hulu Cai menjadi prioritas, agar sungai ini dapat terus mengalir dengan baik dan tidak juga berlebih hingga menyebabkan banyak bencana longsor di Puncak dan banjir di Jabodetabek. Penyelamatan kawasan puncak yang sangat kompleks dapat dimulai dengan penyelesaian satu issu dengan dua aliran sungai paling hulu sebagai model. Sungai Cisampay dan Sungai Citamiang, anak Sungai Ciliwung paling hulu memiliki tekanan yang cukup besar sehingga memerlukan penanganan dari berbagai pihak dari hulu sampai hilir.
Dalam perayaan Hari Ciliwung ini, Konsorsium Penyelamatan Puncak menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengkampanyekan penyelamatan Sungai Ciliwung dimulai dengan “penyembuhan” di kawasan hulu. Rangkaian kegiatan dimulai sejak tanggal 8 November 2014 hingga 11 November 2014 yang merupakan hari ulang tahun Ciliwung. Rangkaian kegiatan yang dilakukan dimulai dengan memulung sampah dan membersihkan gunung sampah, River camp, Tanam pohon bersama kelompok tani hutan Kampung Cibulao, Susur Sungai Citamiang (anak Sungai Ciliwung) Desa Tugu Utara, dan ditutup dengan acara diskusi dan Penandatanganan Piagam Ciliwung yang merupakan kesepakatan bersama antar kepala daerah dan para pihak yang memiliki wewenang dalam membuat kebijakan dan memiliki wewenang terhadap pengelolaan Sungai Ciliwung.
Dalam rangka memulai, menjembatani, dan mengintegrasikan  program-program pengelolaan Sungai Ciliwung, diskusi dan penandatanganan piagam kesepakatan bersama Ciliwung ini diharapkan dapat:
  1. Menemukan ide-ide kreatif dan inisiatif unik yang dapat memulai dan mendukung program-program pemerintah daerah dalam upaya pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.
  2. Memperkuat kerjasama dan sinergitas antar masyarakat dan aparat daerah pada wilayah administrasi yang dilintasi Sungai Ciliwung dalam rangka percepatan pemulihan Sungai Ciliwung
  3. Mengurangi dampak pencemaran sungai pada masing-masing wilayah administrasi.
Lahirnya Nota Kesepahaman antara Kepala Pemerintahan Daerah di  Provinsi Jawa Barat serta para pihak yang memiliki wewenang dan kepentingan terhadap DAS Ciliwung diharapkan dapat menjadi awal sinergi dari Pengelolaan DAS Ciliwung kawasan Hulu-Tengah.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar memberikan apresiasi yang tinggi pada aktivitas kolaborasi komunitas Ciliwung. Hal ini mengingat DAS Ciliwung merupakan DAS yang kritis. “DAS Ciliwung akan menjadi super prioritas Kemenlinghut dalam mengatasi ancaman banjir, utamanya di hulu DAS Ciliwung” tegas Siti.
DR. Ernan Rustiadi M.Agr, selaku Koordinator Konsorsium yang juga Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi momentum menghidupkan semangat dan optimisme baru bahwa persoalan Kawasan Puncak dan cita-cita mewujudkan Sungai Ciliwung bersih bukan kemustahilan tapi yakin akan terwujud dengan kerja bersama yng melibatkan komunitas” ungkap Ernan. Sudah saatnya di kawasan puncak memiliki wadah kerjasama yang melibatkan lembaga-lembaga pemerintah, pengusaha, lembaga penelitian dan pendidikan, LSM dan komunitas.

CATATAN UNTUK EDITOR:
­   Konsorsium Penyelamatan Puncak merupakan jaringan kerjasama aksi untuk mendukung konservasi Kawasan Puncak yang dimotori oleh IPB (P4W, Fakultas Pertanian, dan CDA), Komunitas Ciliwung Puncak, Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Forest Watch Indonesia, Ciliwung Institute, dan Telapak teritori Jawa bagian Barat, yang diinisiasi sejak Februari  2014. Telah melakukan serangkaian kerja aksi di Kawasan Puncak yang bekerjasama dengan BKPP Wilayah I Jawa Barat, Bappeda Kabupaten Bogor, PTPN VIII, Perhutani, serta masyarakat khususnya di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan (http://savepuncak.org)
-          Komunitas Ciliwung Puncak merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki visi, misi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah alam di Kawasan Puncak sebagai kawasan penyangga ibu kota. Saat ini buffer zone tersebut sudah rusak dan berubah menjadi kota kumuh tanpa perencanaan. Fokus KCP adalah mencari solusi tentang sampah juga kampanye lingkungan tentang penanaman pohon bambu dan aren. Informasi lebih jauh tentang puncak.org bisa diakses melalui http://puncak.org.
-          Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor, Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.org.
-          Divisi Perencanaan dan Pengembangan Komunitas, Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB adalah sebuah divisi pada sebuah lembaga penelitian di bawah Institut Pertanian Bogor yang memfokuskan diri pada kegiatan penelitian yang terkait dengan perencanaan wilayah, pengembangan wilayah pada lingkup kepulauan, negara berkembang dan pedesaan atau pertanian. Divisi ini memfokuskan kegiatannya pada isu-isu the commons dan pendekatan partisipatif. Informasi lebih jauh dapat diakses http://www.p4w-ipb.com
-          Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat adalah Alat Kelengkapan Pengurus Perkumpulan Telapak yang bertanggung jawab untuk menjalankan agenda Telapak serta membangun komunikasi yang intensif kepada seluruh anggota Telapak di teritori Jawa Bagian Barat. Perkumpulan Telapak merupakan organisasi perkumpulan berbasis anggota individu yang meliputi aktivis LSM, masyarakat adat, petani, nelayan, praktisi bisnis, praktisi media, advokat, guru, dosen, PNS, dan berbagai profesi lainnya, yang bertujuan mewujudkan system pengelolaan sumber daya alam hayati yang bertumpu pada masyarakat setempat dan didasarkan pada nilai-nilai keadilan, keragaman, dan kelestarian di Indonesia sesuai Arah Gerakan Telapak. Informasi lebih jauh dapat diakses http://www.telapak.org
-          Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi ini berbasis di Bogor. Informasi lebih jauh mengenai organisasi ini dapat dijumpai pada website http://fwi.or.id.
-          Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) merupakan kelompok masyarakat yang berupaya menginspirasi warga terhadap pentingnya lingkungan sungai yang sehat. Sejak awal berdiri selalu mengedepankan arti dari kesederhanaan dan teladan berbanding aktivitas yang sulit sekali ditiru. Oleh karenanya pilihan-pilihan kegiatan adalah memungut sampah di sungai dan menanam pohon pada bantaran sungai. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://tjiliwoeng.blogspot.com.
-          Daerah Tangkapan Air merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penangkap air sementara pada wilayah puncak dan punggungan suatu daratan. Wilayah ini dicirikan dengan kemampuannya untuk  menahan air dan menyalurkannya ke dalam tanah sebelum dialirkan kembali ke permukaan. Semakin lebat dan asli vegetasi yang berada di wilayah ini secara otomatis kemampuannya pun semakin baik. Contoh dari hubungan yang baik dari Daerah Tangkapan Air adalah keberadaan wilayah berhutan di Gunung Rinjani, Pulau Lombok. Kehilangan tutupan hutan di kawasan Gunung Rinjani, otomatis akan mematikan kehidupan pertanian dan perkebunan di pulau tersebut.
-          Dari enam Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bogor yang menghilir ke Propinsi DKI Jakarta, hanya DAS Ciliwung yang memiliki tutupan hutan, itu pun hanya seluas 3.565 ha (12,22%). Secara total prosentase  tutupan  hutan  dari  enam  buah  DAS  yang  menghilir  ke  Propinsi  DKI  Jakarta  hanya 4,30%, sangat kritis untuk menyangga Jakarta.

-          DAS Ciliwung dengan luas total mencapai hampir 39.000 ha, dan 29.000 ha bagiannya ada di Kabupaten Bogor. Tutupan hutan berupa hamparan yang tersisa hanya 9,2%, terletak di bagian hulu, yaitu Kawasan Puncak. Sangat kecil dan masih akan mengecil. Pada periode tahun 2000-2009 tutupan hutan yang musnah di DAS Ciliwung mendekati 5.000 ha, sedikit lebih luas daripada Kota Sukabumi.

Senin, 20 Oktober 2014

Undangan Lomba Mancing Ciliwung 26 Oktober 2014 Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai

Sungai Ciliwung Jembatan Gadog Jl. Raya PUNCAK
Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai 2013
(fotografer : Cecil Juliana Priscilla Dewi)


Ciliwung River Fishing Community CRFC Present
Minggu 26 Oktober 2014 Pukul 10:00 - selesai

Menuju #HariCiliwung1111 11 November 2014

Lomba Mancing Sebagai Sarana Pendataan dan Sosialisasi Pelestarian Ikan Lokal Asli Sungai Ciliwung.

Lokasi : Jalan Raya Puncak Gadog (Dam Gadog)
Sungai Ciliwung Jembatan Gadog

TUJUAN

1. Menumbuh kembangkan rasa kepedulian berbagai pihak untuk melahirkan ide-ide kreatif dan aksi nyata untuk sungai Ciliwung.
2. Memperkuat kerja sama dan sinergisitas semua pihak baik pemerintah, komunitas-komunitas Ciliwung, pemancing ataupun individu-individu dan masyarakat. Bahwa menjaga dan memelihara lingkungan sungai Ciliwung adalah tugas kita bersama.
3. Memberikan edukasi kepada pemancing dan masyarakat yang berada disepanjang aliran sungai Ciliwung, untuk menjaga kelestarian ikan asli Ciliwung.
4. Dengan menjaga ekosistem dan sampah sudah barang tentu akan menjaga kualitas air sungai ciliwung yang sebagian besar didaerah hulu di jawa barat untuk mandi dan cuci serta meningkatkan sumber kualitas air untuk PDAM
5. Meningkatkan semangat konservasi kepada seluruh lapisan masyarakat.
6. Dapat menggali seluruh potensi sungai ciliwung,seperti pariwisata , perikanan air tawar dan dijadikan laboratorium alam sebagai bahan penelitian.

Biaya Pendaftaran Peserta Mancing 
Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah/orang)

contact person :
Maruli Alpia : 085778390686
Ibnu Ramdoni 087825948584

Kelas dan Kriteria Lomba :
Kelas A
* Soro ( Terpanjang / Terbanyak)
* Senggal ( Terpanjang / Terbanyak )
* Arelot Sili ( Terpanjang / Terbanyak )
* Bogo ( Terpanjang / Terbanyak )
* Lendi ( Terpanjang / Terbanyak )

Kelas B
* Beunter dan Paray Terbanyak
* Jeler Terbanyak
* Kehkel Terbanyak

JACKPOT Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)
Soro TERBERAT diatas 500 gram
TERCEPAT..!!!

***Display Pameran Ikan Lokal Asli Ciliwung 


Selamat Bertanding
Para Peserta
Lomba Mancing Sungai Ciliwung
(FORMASI)



KETENTUAN LOMBA MANCING SEBAGAI SARANA PENDATAAN DAN SOSIALISASI PELESTARIAN IKAN LOKAL CILIWUNG
- Peserta hanya dapat mengikuti 1 (satu) kelas.
- Teknik mancing yang diperbolehkan adalah teknik mancing tradisional (Non Casting/ Fly Fishing).
- Tidak boleh menggabungkan hasil tangkapan sesama peserta.
- Umpan bebas.
- Jakpot ikan SORO terberat di atas 500 gr (harus hidup). Dengan hadiah Rp. 500.000,-. Bagi pemancing yang tercepat melaporkan hasil tangkapan kepada panitia.
- Peserta harus sudah melaporkan hasil tangkapan lomba mancing pukul 16.00 WIB.
- Ikan yang dinilai hanya ikan hasil tangkapan lomba mancing dalam keadaan hidup kecuali ikan ARELOT/ BEROD/ SILI.
- Peserta DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SUNGAI, jika melanggar ketentuan ini akan di DISKUALIFIKASI (Dianggap Gugur).
- Pendaftaran dan registirasi paling lambat tanggal 26 Oktober 2014 di Lokasi.
- Lokasi perlombaan di hilir bawah mulai dari Leuwi Salak Gadog sampai dengan hulu diatasnya daerah Leuwi Osin (belakang GG House) / hanya untuk Kelas A.
- Lokasi perlombaan dari Leuwi Salak sampai dengan DAM Gadog untuk Kelas B.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas A di DAM Gadog.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas B dilaporkan langsung ke Panitia terdekat.
- Keputusan panitia lomba mancing tidak dapat diGANGGU GUGAT (mutlak).
hormat kami,
CRFC
Ciliwung River Fishing Community




Komitmen Bersama
Sosialisasi Pelarangan Penangkapan Ikan Dengan Cara Racun & Setrum


Foto Kegiatan Ciliwung

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

Memuat...

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top