Tampilkan postingan dengan label hulu ciliwung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hulu ciliwung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 November 2014

Sinergi Pengelolaan Ciliwung Bergerak Dari Hulu #HariCiliwung1111

"Ciliwung 5 Tahun Dari Hari Ini" 


Puncak, 11 November 2014. Kawasan puncak adalah hulu berbagai  persoalan lingkungan sungai Ciliwung. Degradasi kawasan puncak dan menurunnya daya dukung lingkungan kawasan ini berdampak penting terhadap timbulnya berbagai persoalan lingkungan di hilir Sungai Ciliwung termasuk Kota Jakarta. Tingkat kerusakan Kawasan Puncak sebagai sumber dan penyedia air bagi jutaan manusia di Bogor, Depok, dan Jakarta sudah pada tahap yang sangat menghawatirkan. Puncak menjadi hulu sungai yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Ciliwung sebagai toilet dan tempat sampah terpanjang di dunia, Ciliwung merana.

Bergerak dari Hulu

Kawasan Puncak masih menjadi pilihan destinasi wisata yang sangat populer bagi warga Jakarta dan sekitarnya di akhir pekan dan hari libur. Kawasan ini juga populer setiap kali Jakarta tengah sibuk menghadapi banjir rutin yang datang pada puncak musim hujan di akhir dan awal tahun. Ada keniscayaan bahwa sebagian sumber utama banjir di Jakarta adalah karena datangnya “banjir kiriman” dari Bogor, utamanya dari kawasan Puncak. Oleh karenanya, kawasan ini sering dipersalahkan, sehingga sebagian mata para pengamat, media dan pejabat menunjuk dan menyalahkan hadirnya bangunan vila-vila liar serta berbagai pelanggaran tata ruang kawasan ini yang tidak kunjung terselesaikan. Polemik Kawasan Puncak ini seakan jadi ritual tahunan berita yang populer. Namun faktanya, permasalahan lingkungan di Kawasan puncak ini tidak kunjung padam tanpa solusi berarti dan memunculkan riuh berita musiman yang berulang tiap tahunnya.
Di penghujung tahun 2013 Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dengan didukung Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembongkaran vila-vila liar di tanah-tanah negara. Pembongkaran yang memang “sudah seharusnya” dilakukan ini menjadi berita hangat karena menjadi hal yang “tidak biasa” dan untuk pertama kalinya dilakukan dengan jumlah yang cukup masif. “Tidak biasa” karena sudah ada keniscayaan bahwa pemerintah tidak akan pernah memiliki kemampuan dan keberanian menaklukan para pemilik-pemilik vila yang banyak dimiliki para “elit” yang berpengaruh di negeri ini. Pembongkaran vila di Kawasan Puncak tampaknya akan menjadi “persoalan yang menyisakan persoalan baru” jika tidak disertai aksi yang menyeluruh. Pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa Kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila, jasa ojek bagi pengunjung vila, termasuk jual beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan. Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak ke arah hulu atau akar masalah. Solusi ke hulu diantaranya adalah menertibkan praktek jual beli tanah-tanah negara. Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai status tanah-tanah negara di kawasan ini.
Di tengah kesulitan baru akibat hilangnya sebagian sumber mata pencarian warganya pasca pembongkaran vila dan ditengah derasnya gempuran budaya “asing”, warga lokal Kawasan Puncak selalu memiliki mimpi lingkungan Puncak yang bersih dan lestari. Tumbuhnya kesadaran lokal akan kelestarian lingkungan ini kami rasakan ketika kami selama beberapa bulan terakhir menyertai masyarakat berembug mendiskusikan masa depan kawasan ini. Namun tumbuhnya kesadaran lingkungan ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan para pihak yang memiliki kewenangan diluar lokalitas mereka. Aksi masyarakat beberapa kampung di kawasan ini yang tergerak secara rutin memulung sampah sampah domestik, wisatawan, hotel-restoran di hulu-hulu sungai Ciliwung membutuhkan dukungan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Pemerintah Daerah, pengelola kawasan perkebunan serta pengusaha perhotelan dan restoran di kawasan ini dapat mendukung terbangunnya system pengelolaan sampah yang terintegrasi pada skala wilayah.
Menyadari itu semua, kami dari beberapa komunitas, akademisi dan pemerhati lingkungan merasa sebagai bagian dari persoalan ini berikhtiar memulai “gerakan dari hulu” dengan membentuk “Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak”. Konsorsium kami diinisasi oleh P4W IPB, Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat, Ciliwung Institute, Komunitas Ciliwung Puncak dan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Kami tidak tahu berapa persisnya kontribusi Kawasan Puncak terhadap persoalan lingkungan Sungai Ciliwung, Kota Jakarta dan sekitarnya. Tapi kami yakin bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan bergerak dari hulu dimana Kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung adalah salah satu hulu persoalan. Di kawasan hulu sungai ini kami juga mencoba melihat dan bergerak di hulu persoalan. Kami akan berusaha bergerak secara proporsional dalam tiga bentuk kegiatan, yakni riset, kampanye dan aksi nyata. Meski bergerak dari hulu, kami berkeyakinan bahwa pada akhirnya semua harus berujung pada aksi nyata.
Kajian desa secara partisipatif telah mengindentifikasi masalah pencemaran dan sumber daya air yang terjadi di Kawasan Puncak, Bogor, khususnya di Desa Tugu Selatan dan Tugu Utara. Masalah yang terkait dengan aspek pencemaran di antaranya bersumber dari sampah dan limbah cair. Beberapa penyebab timbulnya permasalahan tersebut di antaranya:
  1. Volume sampah yang besar berasal dari wisatawan, permukiman warga, hotel, dan tempat rekreasi
  2. Tidak tersedianya sarana fisik penampungan sampah yang memadai
  3. Pengangkutan sampah oleh petugas resmi tidak mencapai pedalaman permukiman
  4. Tidak adanya pengelolaan limbah cair komunal baik di publik maupun di permukiman masyarakat
  5. Perilaku hidup tidak ramah lingkungan
  6. Pelanggaran dan penguasaan terhadap sumberdaya air, misalnya penguasaan mata air dan pemagaran badan sungai.
Temuan tersebut diperkuat dengan hasil penelusuran sungai-sungai yang ada di Kawasan Puncak oleh Komunitas Peduli Ciliwung. Keberadaan sumber cemaran ditemukan tersebar di hulu sungai sampai pada batas hutan. Hilangnya ekosistem riparian akibat konversi perkebunan teh, infrastruktur wisata, dan permukiman warga menyebabkan hilangnya wilayah penyangga buffer antara sungai dan kawasan budidaya atau permukiman.
Dampak ekologi hilangnya ekosistem riparian diantaranya (1) berkurangnya resapan air sungai ke dalam tanah, (2) berkurangnya daya tahan tanah terhadap aliran permukaan (run off), (3) meningkatnya potensi longsor tebing sungai, dan (4) hilangnya jalur hijau sebagai habitat satwa liar. Dampak lainnya adalah hilangnya fungsi ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai. Aliran sungai menjadi tercemar karena adanya sampah dan limbah cair. Selain itu terdapat pula masalah yang terkait dengan penguasaan sumber daya air, misalnya sempadan sungai dan mata air oleh pihak tertentu. Hal tersebut menyebabkan warga kesulitan mendapatkan akses menuju sungai dan mata air. Air sungai tidak dapat digunakan lagi, sementara sumber air telah dikuasi oleh pihak tertentu.
Kami memahami bahwa masalah pencemaran dan sumber daya air merupakan masalah yang kompleks. Penanganan masalah tersebut harus terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan.
Penanganan persoalan kebiasaan membuang sampah dan limbah ke Sungai Ciliwung juga perlu dimulai dari hulu Sungai Ciliwung di Kawasan Puncak. Upaya mengubah kebiasaan dan kemandirian masyarakat mengelola sampah memerlukan dukungan banyak pihak. Baik melalui penguatan kelembagaan, pengadaan fasilitas kebersihan dan pengolahan sampah/limbah hingga dukungan kebijakan pemerintah maupun pemuka agama.
Tedja Kusumah, penduduk yang bermukim di wilayah Puncak sangat gundah dengan kondisi ini. “Siapakah pemilik-pengelola tanah di wilayah ini dan untuk siapa sajakah atau untuk apa sajakah wilayah ini? Apakah hanya dijadikan wilayah wisata tanpa memperhatikan lingkungan? Apakah wilayah dan masyarakat setempatnya memang telah diposisikan untuk selalu menjadi Objek Penderita?,” katanya. Selanjutnya Tedja pun menambakan isu Ciliwung hanya ada di musim hujan, jika kemarau telah mulai Puncak pun akan dilupakan. Jika ini terjadi lagi, hal ini semakin membuatnya yakin bahwa wilayah dan masyarakat di Puncak hanya Objek Penderita dari gemerlapnya pembangunan.
 “Saat ini seharusnya bukan Pendapatan Asli Daerah yang menjadi prioritas melainkan lingkungan hidup karena Puncak adalah penyangga jutaan penduduk di JABODETABEK. Bagaimana bisa menjadi penyangga yang baik kalau untuk menyangga daerahnya sendiri sudah tidak mampu karena semakin berkurangnya daya dukung lingkungan”, lanjut Teja Kusumah yang saat ini juga aktif di Komunitas Ciliwung Puncak.

Kampanye dan Ajakan bergabung dalam aksi  bersama

Persoalan lingkungan di kawasan puncak membutuhkan pendekatan-pendekatan yang tepat dan menyentuh kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan penegakan hukum akan sia-sia jika tanpa disertai upaya menghidupkan aktivitas ekonomi lokal yang berkelanjutan. 
Gerakan aksi penyelamatan kawasan puncak adalah upaya untuk menghimpun partisipasi para pihak (pemerintah pusat dan daerah, masyarakat lokal, dunia usaha, dan akademisi) sesuai dengan kapasitasnya masing-masing di dalam penyelamatan keberlanjutan kawasan puncak. Kawasan puncak menyimpan berbagai peluang usaha bagi komunitas lokal yang lebih ramah lingkungan dan tidak berbasis pada eksploitasi sumberdaya fisik lingkungan. 
Perlu dukungan dari berbagai pihak dan kebijakan sinergis dari beberapa daerah dan pemangku kebijakan yang memiliki kepentingan terhadap pengelolaan DAS Ciliwung, agar inisiatif ini dapat terus berjalan, dan tidak terjebak pada “semangat musiman”ketika kawasan Puncak menjadi perhatian dan pembicaran hanya ketika musim penghujan dan banjir di Jakarta saja.
Hari Ciliwung 2014 menjadi bahan renungan kita untuk bersama-sama berbuat baik terhadap Ciliwung dan anak-anak sungainya. Semangat konservasi berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam normalisasi Ciliwung.
Konservasi Hulu Cai menjadi prioritas, agar sungai ini dapat terus mengalir dengan baik dan tidak juga berlebih hingga menyebabkan banyak bencana longsor di Puncak dan banjir di Jabodetabek. Penyelamatan kawasan puncak yang sangat kompleks dapat dimulai dengan penyelesaian satu issu dengan dua aliran sungai paling hulu sebagai model. Sungai Cisampay dan Sungai Citamiang, anak Sungai Ciliwung paling hulu memiliki tekanan yang cukup besar sehingga memerlukan penanganan dari berbagai pihak dari hulu sampai hilir.
Dalam perayaan Hari Ciliwung ini, Konsorsium Penyelamatan Puncak menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengkampanyekan penyelamatan Sungai Ciliwung dimulai dengan “penyembuhan” di kawasan hulu. Rangkaian kegiatan dimulai sejak tanggal 8 November 2014 hingga 11 November 2014 yang merupakan hari ulang tahun Ciliwung. Rangkaian kegiatan yang dilakukan dimulai dengan memulung sampah dan membersihkan gunung sampah, River camp, Tanam pohon bersama kelompok tani hutan Kampung Cibulao, Susur Sungai Citamiang (anak Sungai Ciliwung) Desa Tugu Utara, dan ditutup dengan acara diskusi dan Penandatanganan Piagam Ciliwung yang merupakan kesepakatan bersama antar kepala daerah dan para pihak yang memiliki wewenang dalam membuat kebijakan dan memiliki wewenang terhadap pengelolaan Sungai Ciliwung.
Dalam rangka memulai, menjembatani, dan mengintegrasikan  program-program pengelolaan Sungai Ciliwung, diskusi dan penandatanganan piagam kesepakatan bersama Ciliwung ini diharapkan dapat:
  1. Menemukan ide-ide kreatif dan inisiatif unik yang dapat memulai dan mendukung program-program pemerintah daerah dalam upaya pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.
  2. Memperkuat kerjasama dan sinergitas antar masyarakat dan aparat daerah pada wilayah administrasi yang dilintasi Sungai Ciliwung dalam rangka percepatan pemulihan Sungai Ciliwung
  3. Mengurangi dampak pencemaran sungai pada masing-masing wilayah administrasi.
Lahirnya Nota Kesepahaman antara Kepala Pemerintahan Daerah di  Provinsi Jawa Barat serta para pihak yang memiliki wewenang dan kepentingan terhadap DAS Ciliwung diharapkan dapat menjadi awal sinergi dari Pengelolaan DAS Ciliwung kawasan Hulu-Tengah.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar memberikan apresiasi yang tinggi pada aktivitas kolaborasi komunitas Ciliwung. Hal ini mengingat DAS Ciliwung merupakan DAS yang kritis. “DAS Ciliwung akan menjadi super prioritas Kemenlinghut dalam mengatasi ancaman banjir, utamanya di hulu DAS Ciliwung” tegas Siti.
DR. Ernan Rustiadi M.Agr, selaku Koordinator Konsorsium yang juga Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi momentum menghidupkan semangat dan optimisme baru bahwa persoalan Kawasan Puncak dan cita-cita mewujudkan Sungai Ciliwung bersih bukan kemustahilan tapi yakin akan terwujud dengan kerja bersama yng melibatkan komunitas” ungkap Ernan. Sudah saatnya di kawasan puncak memiliki wadah kerjasama yang melibatkan lembaga-lembaga pemerintah, pengusaha, lembaga penelitian dan pendidikan, LSM dan komunitas.

CATATAN UNTUK EDITOR:
­   Konsorsium Penyelamatan Puncak merupakan jaringan kerjasama aksi untuk mendukung konservasi Kawasan Puncak yang dimotori oleh IPB (P4W, Fakultas Pertanian, dan CDA), Komunitas Ciliwung Puncak, Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Forest Watch Indonesia, Ciliwung Institute, dan Telapak teritori Jawa bagian Barat, yang diinisiasi sejak Februari  2014. Telah melakukan serangkaian kerja aksi di Kawasan Puncak yang bekerjasama dengan BKPP Wilayah I Jawa Barat, Bappeda Kabupaten Bogor, PTPN VIII, Perhutani, serta masyarakat khususnya di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan (http://savepuncak.org)
-          Komunitas Ciliwung Puncak merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki visi, misi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah alam di Kawasan Puncak sebagai kawasan penyangga ibu kota. Saat ini buffer zone tersebut sudah rusak dan berubah menjadi kota kumuh tanpa perencanaan. Fokus KCP adalah mencari solusi tentang sampah juga kampanye lingkungan tentang penanaman pohon bambu dan aren. Informasi lebih jauh tentang puncak.org bisa diakses melalui http://puncak.org.
-          Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor, Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.org.
-          Divisi Perencanaan dan Pengembangan Komunitas, Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB adalah sebuah divisi pada sebuah lembaga penelitian di bawah Institut Pertanian Bogor yang memfokuskan diri pada kegiatan penelitian yang terkait dengan perencanaan wilayah, pengembangan wilayah pada lingkup kepulauan, negara berkembang dan pedesaan atau pertanian. Divisi ini memfokuskan kegiatannya pada isu-isu the commons dan pendekatan partisipatif. Informasi lebih jauh dapat diakses http://www.p4w-ipb.com
-          Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat adalah Alat Kelengkapan Pengurus Perkumpulan Telapak yang bertanggung jawab untuk menjalankan agenda Telapak serta membangun komunikasi yang intensif kepada seluruh anggota Telapak di teritori Jawa Bagian Barat. Perkumpulan Telapak merupakan organisasi perkumpulan berbasis anggota individu yang meliputi aktivis LSM, masyarakat adat, petani, nelayan, praktisi bisnis, praktisi media, advokat, guru, dosen, PNS, dan berbagai profesi lainnya, yang bertujuan mewujudkan system pengelolaan sumber daya alam hayati yang bertumpu pada masyarakat setempat dan didasarkan pada nilai-nilai keadilan, keragaman, dan kelestarian di Indonesia sesuai Arah Gerakan Telapak. Informasi lebih jauh dapat diakses http://www.telapak.org
-          Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi ini berbasis di Bogor. Informasi lebih jauh mengenai organisasi ini dapat dijumpai pada website http://fwi.or.id.
-          Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) merupakan kelompok masyarakat yang berupaya menginspirasi warga terhadap pentingnya lingkungan sungai yang sehat. Sejak awal berdiri selalu mengedepankan arti dari kesederhanaan dan teladan berbanding aktivitas yang sulit sekali ditiru. Oleh karenanya pilihan-pilihan kegiatan adalah memungut sampah di sungai dan menanam pohon pada bantaran sungai. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://tjiliwoeng.blogspot.com.
-          Daerah Tangkapan Air merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penangkap air sementara pada wilayah puncak dan punggungan suatu daratan. Wilayah ini dicirikan dengan kemampuannya untuk  menahan air dan menyalurkannya ke dalam tanah sebelum dialirkan kembali ke permukaan. Semakin lebat dan asli vegetasi yang berada di wilayah ini secara otomatis kemampuannya pun semakin baik. Contoh dari hubungan yang baik dari Daerah Tangkapan Air adalah keberadaan wilayah berhutan di Gunung Rinjani, Pulau Lombok. Kehilangan tutupan hutan di kawasan Gunung Rinjani, otomatis akan mematikan kehidupan pertanian dan perkebunan di pulau tersebut.
-          Dari enam Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bogor yang menghilir ke Propinsi DKI Jakarta, hanya DAS Ciliwung yang memiliki tutupan hutan, itu pun hanya seluas 3.565 ha (12,22%). Secara total prosentase  tutupan  hutan  dari  enam  buah  DAS  yang  menghilir  ke  Propinsi  DKI  Jakarta  hanya 4,30%, sangat kritis untuk menyangga Jakarta.

-          DAS Ciliwung dengan luas total mencapai hampir 39.000 ha, dan 29.000 ha bagiannya ada di Kabupaten Bogor. Tutupan hutan berupa hamparan yang tersisa hanya 9,2%, terletak di bagian hulu, yaitu Kawasan Puncak. Sangat kecil dan masih akan mengecil. Pada periode tahun 2000-2009 tutupan hutan yang musnah di DAS Ciliwung mendekati 5.000 ha, sedikit lebih luas daripada Kota Sukabumi.

Rabu, 18 Juni 2014

Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak

PUNCAK Yang Tenggelam
dan Aksi Bersama Penyelamatannya
(Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak)
Bergerak dari Hulu
Kawasan puncak masih menjadi pilihan destinasi wisata yang sangat popular bagi warga Jakarta di akhir pekan dan hari libur. Kawasan ini juga popular setiap kali Jakarta tengah sibuk menghadapi banjir rutin yang datang pada puncaknya musim hujan di akhir dan awal tahun. Ada keniscayaan bahwa sebagian sumber utama banjir di Jakarta adalah karena datangnya “banjir kiriman” dari Bogor, utamanya dari Kawasan Puncak.

Oleh karenanya, kawasan ini sering dipersalahkan, sehingga sebagian mata pengamat, media dan pejabat menunjuk dan menyalahkan hadirnya bangunan vila-vila liar serta berbagai pelanggaran tata ruang kawasan ini yang tidak kunjung terselesaikan. Polemik Kawasan Puncak ini seakan jadi ritual tahunan berita yang popular . Namun faktanya, permasalahan lingkungan di Kawasan Puncak ini tidak kunjung padam tanpa solusi berarti dan memunculkan riuh berita musiman yang berulang tiap tahunnya.

Di penghujung tahun 2013 Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dengan didukung Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembongkaran vila-vila liar di tanah-tanah Negara. Pembongkaran yang memang “sudah seharusnya” dilakukan ini menjadi berita hangat karena menjadi hal yang “tidak biasa” dan untuk pertama kalinya dilakukan dengan jumlah yang cukup masif. “Tidak biasa” karena sudah ada keniscayaan bahwa pemerintah tidak akan pernah memiliki kemampuan dan keberanian menaklukan para pemilik-pemilik vila yang banyak dimiliki para “elit” yang berpengaruh di negeri ini.

Pembongkaran vila di Kawasan Puncak tampaknya akan menjadi “persoalan yang menyisakan persoalan baru” jika tidak disertai aksi yang menyeluruh. Pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa Kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan , Kecamatan Cisarua hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila, jasa ojek bagi pengunjung vila, termasuk jual beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan.

Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak kearah hulu atau akar masalah. Solusi ke hulu diantaranya adalah menertibkan praktek jual beli tanah-tanah negara.

Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai status tanah-tanah negara di kawasan ini. Adanya kejelasan batas-batas tanah berstatus kawasan hutan negara, tanah perkebunan serta peruntukan rinci menurut ketentuan tata ruang akan menjadi pijakan para pihak di dalam mengelola kawasan ini. 

Solusi ke hulu yang lain adalah menumbuhkan alternatif lapangan pekerjaan yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat lokal. Masyarakat lokal perlu didukung agar memiliki akses dan kapasitas dalam mengelola begitu besarnya potensi sektor wisata dan pertanian di kawasan ini.

Masyarakat yang berdaya dan bermartabat adalah masyarakat yang memiliki ketahanan ekonomi dan memiliki ketahanan ekonomi dan memiliki jati diri yang berakar pada budaya lokal. Saat ini Kawasan Puncak juga telah menjadi tempat wisata dan pusat persinggahan yang populer bagi warga pendatang dari negara negara kawasan “Timur Tengah” yang hendak bermigrasi ke negara lain. Hadirnya banyak pendatang ke Kawasan Puncak dan telah menumbuhkan perekonomian sektor wisata di kawasan ini perlu disertai daya dukung sosial yang kuat agar Kawasan Puncak tidak kehilangan indentitas diri dan karakter budayanya. Untuk itu agenda kebudayaan dan kegiatan keagamaan juga perlu mendapatkan perhatian tinggi.

Pada akhirnya, masyarakat lokal Kawasan Puncak yang memiliki ketahanan ekonomi dan budaya akan menjadi jangkar kelestarian lingkungan yang lebih permanen. Namun di tengah kesulitan baru akibat hilangnya sebagian sumber mata pencarian warganya pasca pembongkaran vila dan di tengah derasnya gempuran budaya “asing”, warga lokal “Kawasan Puncak selalu memiliki mimpi lingkungan Puncak yang bersih dan lestari. 

Tumbuhnya kesadaran lokal akan kelestarian lingkungan ini kami rasakan ketika kami selama beberapa bulan terakhir menyertai masyarakat berembug mendiskusikan masa depan kawasan ini. Namun tumbuhnya kesadaran lingkungan ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan para pihak yang memiliki kewenangan di luar lokalitas mereka. Aksi masyarakat beberapa kampung di kawasan ini yang tergerak secara rutin memulung sampah sampah domestik, wisatawan, hotel-restoran di hulu-hulu sungai Ciliwung membutuhkan dukungan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Pemerintah Daerah, pengelola kawasan perkebunan serta pengusaha pengusaha perhotelan dan restoran di kawasan ini dapat mendukung terbangunnya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi pada skala wilayah. Budayawan dan pemuka agama dapat membantu menumbuhkan kesadaran warga dan umat beragama mewujudkan Sungai Ciliwung bersih. Aksi di hulu yang tidak kalah penting adalah kontribusi akademisi dan peneliti. Mereka bukan saja pencetus paradigma paradigma untuk menjawab tantangan baru namun juga berkontribusi menjelaskan dan menjernihkan persoalan kelabu menjadi terang benderang ke khalayak, bukan sebaliknya.

Menyadari itu semua, kami segelintir komunitas dan penggiat yang juga merasa sebagai bagian dari persoalan ini berikhtiar memulai “gerakan dari hulu” dengan membentuk “Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak”. Konsorsium kami diinisiasi oleh P4W IPB, Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat, Ciliwung Institute, Komunitas Ciliwung Puncak dan Komunitas Peduli Ciliwung. Kami tidak tahu berapa persisnya kontribusi Kawasan Puncak terhadap persoalan lingkungan Sungai Ciliwung, Kota Jakarta dan sekitarnya. Tapi kami yakin bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan bergerak dari hulu dimana Kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung adalah salah satu hulu persoalan. Di kawasan hulu sungai ini kami juga mencoba melihat dan bergerak di hulu persoalan. Kami akan berusaha bergerak secara proposional dalam tiga bentuk kegiatan, yakni riset, kampanye dan aksi nyata. Meski bergerak dari hulu, kami berkeyakinan bahwa pada akhirnya semua harus berujung pada aksi nyata.

Kami mengundang partisipasi dari seluruh pihak, kami terbuka untuk segala bentuk dukungan, meskipun hanya berupa ide. Kami percaya bahwa pada dasarnya kita semua adalah warga yang peduli dan kami tahu sudah banyak yang diperbuat banyak pihak dalam penyelamatan Kawasan Puncak. Kami hanya membuka satu pilihan lagi untuk mewujudkan kepedulian Anda dengan bergabung pada Gerakan Aksi Bersama ini.

Bogor, Mei 2014

Ernan Rustiadi
Dekan Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Jumat, 09 Mei 2014

31 Mei 2014 Ayo Partisipasi Lomba Mulung Sampah Ciliwung ke-6 Antar Kelurahan Se-Kota Bogor

“Warga Kota Bogor Tidak Lagi Buang Sampah Ke Ciliwung”
Warga Peduli Ciliwung Kota Bogor

Lomba Mulung Sampah Ciliwung antar 12 Kelurahan Kota Bogor yang dilintasi Sungai Ciliwung kembali digelar pada 31 Mei 2014. Lomba yang memasuki pelaksaan tahun ke-6 digelar dalam rangka Hari jadi Bogor ke-532. Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor dan Pemerintah Kota Bogor selaku penyelenggara menargetkan 3000 warga turun ke sungai dan mengangkat 3000 karung sampah Ciliwung.
Selama lima kali penyelenggaraan lomba mulung, 6.136 warga di 12 Kelurahan kota Bogor telah mengangkat 9.346 karung sampah dari Ciliwung.
“Grafik jumlah sampah, partisipasi warga kelurahan, maupun panitia dan juri menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Lomba Mulung Sampah Ciliwung ke-5 yang dilaksanakan pada tahun 2013 telah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kegiatan lomba mulung sampah sungai dengan jumlah peserta terbanyak,” jelas Een Irawan Putra, Koordinator KPC Bogor, saat audiensi dengan Wakil Walikota di Balaikota, Senin 28 April 2014.
Kompetisi pemulungan sampah merupakan partisipasi warga Kota Bogor merayakan dan memeriahkan Hari Jadi Bogor ke-532 yang jatuh pada tanggal 3 Juni 2014. Menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Bogor sejak 2012 atau Lomba Mulung ke-4. Memperebutkan Piala Bergilir Ciliwung Bersih dari Wali Kota Bogor dan sejumlah hadiah menarik lainnya dari Komunitas Peduli Ciliwung dan lembaga pendukung.
Sesuai dengan tema “Warga Kota Bogor Tidak Lagi Buang Sampah Ke Ciliwung”, diharapkan warga tergugah tidak lagi membuang sampah ke Sungai Ciliwung dan memperhatikan kebersihan lingkungan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor merespon positif dan menyatakan dukungan penuh pada kegiatan Lomba Mulung tahun ini. Dalam paparannya Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman mengatakan, lomba ini merupakan kerja bersama Pemkot dan KPC Bogor yang diharapkan berkelanjutan.
Silakan berpartisipasi warga yang tinggal di 13 Kelurahan sepanjang Sungai Ciliwung Kota Bogor untuk turut bebersih Sungai Ciliwung di lingkungan masing masing yaitu :
1. Kelurahan Sindangrasa
2. Kelurahan Katulampa 
3. Kelurahan Tajur 
4. Kelurahan Sukasari
5. Kelurahan Baranangsiang
6. Kelurahan Babakan Pasar
7. Kelurahan Sempur
8. Kelurahan Bantarjati
9. Kelurahan Tanah Sareal
10. Kelurahan Cibuluh
11. Kedung Badak 
12. Kedung Halang

13. Sukaresmi

Untuk partisipasi publik yang ingin membantu menjadi Juri yang mengawasi dan memantau Kegiatan Lomba Mulung Ciliwung Kelurahan Se-Kota Bogor, silakan menghubungi panitia :
Een Irawan Putra : 081388041414
Muhamad Muslich : 081381234648

Sumber Kutipan : kotahujan.com 

Selasa, 22 April 2014

Siaran Pers Hari Bumi : Aksi Kolektif Penyelamatan Kawasan Puncak

Perubahan Fungsi Tata Ruang Kawasan Lindung Puncak
Foto : April 2014


Siaran Pers
Konservasi Hulu Cai
Peringatan Hari Bumi
Krisis Multi Dimensi di Kawasan Puncak dan Aksi Kolektif Multi Pihak untuk Penyelamatannya

Bogor, 22 April 2014. Perubahan dua wilayah perkebunan teh di Puncak disinyalir memperparah
kerusakan tutupan lahan. Sejak pertama kali didirikan sejak jaman Belanda, luas perkebunan
teh telah berkurang hingga setengahnya. Perubahan tutupan lahan di perkebunan teh menjadi
villa telah berlangsung sejak tahun 1970-an. Saat ini perubahan tutupan lahan ini telah
berpengaruh nyata terhadap kemampuan wilayah Puncak sebagai Daerah Tangkapan Air.

Kawasan puncak adalah hulu berbagai  persoalan lingkungan sungai Ciliwung. Degradasi
kawasan puncak dan menurunnya daya dukung lingkungan kawasan ini berdampak penting
terhadap timbulnya berbagai persoalan lingkungan di hilir sungai ciliwung termasuk kota
Jakarta.

Berdasarkan informasi yang didapatkan selama pengumpulan informasi (pendekatan pemetaan
partisipatif) di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan, tidak hanya Perkebunan Ciliwung (PT
Sumber Sari Bumi Pakuan) milik swasta yang tidak mampu mempertahankan luas wilayahnya,
bahkan PTPN VIII (Perkebunan Teh Gunung Mas) pun telah mengalami pengurangan lahan yang
sangat signifikan. Pada masa pemerintahan Kolonial wilayah-wilayah ini telah diperuntukan
sebagai daerah perkebunan yang masing-masing memiliki luas 1.200 ha (Rudi Johar pers comm).
Pada saat ini perkebunan teh PTPN hanya memiliki luas sekitar 500-an ha dan PT Ciliwung
tinggal 660 ha, berdasarkan pengukuran ulang yang dilakukan pada tahun 1990-an.

Di Desa Tugu Selatan villa pertama berada di dekat kantor desa, yang dimiliki oleh Sutan Takdir
Alisyahbana (alm) sejak sekitar tahun 1970-an. Pada saat tersebut wilayah puncak masih dihiasi
oleh rindangnya pohon-pohon besar, bahkan pemukiman pekerja teh masih harus dicapai
dengan berjalan kaki. Perubahan-perubahan wilayah menjadi villa di desa ini terjadi sejak tahun
1980-an. Salah satu ciri bahwa wilayah ini adalah daerah yang hijau, daerah di dekat RW 15
dikenal dengan sebutan Awi Iyuh yang berarti rumpuh bambu yang teduh.

Tidak beda halnya dengan Perkebunan Teh Gunung Mas, Perkebunan Teh Ciliwung terdesak
dengan berbagai tekanan yang pada akhirnya wilayah ini pun berkurang luas lahannnya.
Perubahan-perubahan luas perkebunan memiliki implikasi yang besar, terhadap masyarakat dan
perkebunan teh itu sendiri. Perubahan luas lahan Perkebunan ini diperkirakan berimplikasi
langsung terhadap Pabrik Teh PT. Ciliwung sehingga tidak beroperasi lagi. Seharusnya pabrik
tersebut dapat beroperasi secara optimal dengan pasokan luas teh seluas 1200 ha, dengan luas
saat ini yang 562 ha teh langsung dijual ke luar perkebunan.

“Saat ini cukup sulit untuk dapat mengetahui secara pasti, sejak kapan, dimana, berapa luas,
dan oleh siapa perubahan wilayah perkebunan teh. Hampir mustahil jika tidak ada keterbukaan
informasi dari pihak yang berwenang untuk kembali membuka diri dan menata wilayah Puncak
sesuai dengan hukum yang berlaku,” papar Ernan Rustiadi dari P4W IPB. Berdasarkan informasi
dari masyarakat wilayah ini sebelumnya adalah bagian dari Perkebunan Teh PT. Ciliwung,
berturut-turut adalah  Kampung Cikoneng, Kampung Cisuren, Kampung  Batu Kasur dan terakhir
Kampung Sukatani (tempat villa dibongkar).

Pembongkaran vila sebagai wujud penegakan hukum atas pelanggaran tata ruang dan perijinan
di kawasan puncak jika tidak disertai dengan penanganan  akar persoalan-persoalan sosial,
ekonomi lingkungan berpotensi menumbuhkan persoalan-persoalan lain.  Salah sat akar
persoalan di balik maraknya pembangunan vila-vila yang melanggar ketentuan adalah praktek
jual beli tanah negara khususnya pada kawasan perkebunan teh. Lemahnya kendali dan
penegakan hukum atas praktek jual beli tanah yang melanggar ketentuan berlaku menurunkan
persoalan tata ruang yang tidak kunjung habis-habisnya.

Persoalan ini berkaitan dengan kurang berkembangnya pilihan aktivitas ekonomi masyarakat
yang berkelanjutan. Berbagai aktivitas wisatawan domestik, bisnis prostitusi dan maraknya
aktivitas  komunitas pendatang dari mancanegara khususnya dari timur tengah turut
berpengaruh terhadap kehidupan sodial budaya masyarakat lokal.  

Hari Yanto dari Forest Watch Indonesia menyatakan, “Apakah wilayah puncak masih mampu
memberikan fungsi wilayahnya dengan baik, terutama fungsi tata air? Jika melihat kondisi saat
ini dan tidak ada perubahan pola pengelolaan wilayah yang nyata, tentunya hal ini akan semakin
sulit dicapai”. Di dua wilayah desa ini, Tugu Utara dan Tugu Selatan daerah hijau yang masih
dapat menyerap air dengan baik,  kemungkinan hanya di sekitar wilayah Sungai Cisampay.
Rumpun bambu di sekitar Kampung Cisampay ini diperkirakan memiliki luas tidak kurang dari 5
ha.

Berdasarkan beberapa penelitian yang ada, perkebunan teh bukanlah penyerap air yang baik,
bahkan memiliki tingkat erosi yang tinggi. Secara tidak langsung penelitian-penelitian tersebut
mendapatkan pembuktian nyata dari masyarakat. Kebutuhan air di Puncak sejak sekitar tahun
2000-an telah berubah dari pemanfaatan air sungai dan sumur menjadi hubungan yang sangat
erat dengan mata air. Pipa dan selang air telah menjadi tulang punggung bagi masyarakat
setempat untuk mendapatkan air minum, bahkan villa pun memanfaatkan air dari mata air-mata air ini.

Sampai kapan mata air ini masih dapat bertahan? Penuturan dari kelompok-kelompok
masyarakat menyatakan bahwa kondisi mata air yang berada di wilayah-wilayah perkebunan
telah menuju kritis, banyak mata air yang semakin keruh karena erosi tanah yang ada di
Perkebunan Ciliwung dan Gunung Mas, kondisi ini semakin menyulitkan pada saat tiba musim
kemarau. Walau sumur dapat digali, namun air tanah yang ada keruh karena dangkal.

Penanganan persoalan kebiasaan membuang sampah dan limbah ke Sungai Ciliwung juga perlu
dimulai dari hulu persoalan, dari hulu Sungai Ciliwung di Kawasan Puncak. Upaya mengubah
kebiasaan dan kemandirian masyarakat mengelola sampah memerlukan dukungan banyak
pihak. Baik melalui penguatan kelembagaan, pemberian fasilitas kebersihan dan
pengolahan sampah/limbah hingga dukungan kebijakan pemerintah maupun pemuka agama.

Tedja Kusumah, penduduk yang bermukim di wilayah Puncak sangat gundah dan emosional
dengan kondisi ini. “Siapakah pemilik-pengelola tanah di wilayah ini dan untuk siapa atau untuk
apa wilayah ini? Apakah hanya dijadikan wilayah wisata tanpa memperhatikan lingkungan?
Apakah wilayah dan masyarakat setempatnya memang telah diposisikan untuk selalu menjadi
Objek Penderita?,” sengutnya. Ternyata tidak hanya sampai disini, selanjutnya Tedja pun
menambakan, “Paling Isu Ciliwung hanya ada di musim hujan, jika kemarau telah mulai saya
yakin, Puncak pun akan dilupakan. Jika ini terjadi lagi, hal ini semakin meyakinkan saya bahwa
wilayah dan masyarakat di Puncak hanya Objek Penderita dari gemerlapnya pembangunan”.

“Saat ini seharusnya bukan Pendapatan Asli Daerah yang menjadi prioritas melainkan
lingkungan hidup karena Puncak adalah penyangga jutaan penduduk di JABODETABEK.
Bagaimana bisa menjadi penyangga yang baik kalau untuk menyangga daerahnya sendiri sudah
tidak mampu karena semakin berkurangnya daya dukung lingkungan”,  lanjut Teja Kusumah dari
Komunitas Ciliwung Puncak.

Kampanye dan Ajakan bergabung dalam aksi  bersama
Persoalan lingkungan di kawasan puncak membutuhkan pendekatan-pendekatan yang tepat
dan menyentuh kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan penegakan hukum akan sia-sia
jika tanpa disertai upaya menghidupkan aktivitas ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Gerakan aksi penyelamatan kawasan puncak adalah upaya untuk menghimpun partisipasi para
pihak (pemerintah pusat dan daerah, masyarakat lokal, dunia usaha, dan akademisi) sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing di dalam penyelamatan keberlanjutan kawasan puncak.
Kawasan puncak menyimpan berbagai peluang usaha bagi lomunitas lokal yang lebih ramah
lingkungan dan tidak berbasis pada eksploitasi sumberdaya fisik lingkungan.

CATATAN UNTUK EDITOR:

-  Komunitas Ciliwung Puncak merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki visi, misi, dan
kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah alam di Kawasan
Puncak sebagai kawasan penyangga ibu kota. Saat ini buffer zone tersebut sudah rusak dan
berubah menjadi kota kumuh tanpa perencanaan. Fokus KCP adalah mencari solusi tentang
sampah juga kampanye lingkungan tentang penanaman pohon bambu dan aren. Informasi
lebih jauh tentang puncak.org bisa diakses melalui http://puncak.org.

-  Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan
komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung.
Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor,
Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat
potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini
merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung
yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi
lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.org.

-  Divisi Perencanaan dan Pengembangan Komunitas, Pusat Pengkajian Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah (P4W) IPB adalah sebuah divisi pada sebuah lembaga penelitian di
bawah Institut Pertanian Bogor yang memfokuskan diri pada kegiatan penelitian yang terkait
dengan perencanaan wilayah, pengembangan wilayah pada lingkup kepulauan, negara
berkembang dan pedesaan atau pertanian. Divisi ini memfokuskan kegiatannya pada isu-isu
the commons dan pendekatan partisipatif. Informasi lebih jauh dapat diakses
http://www.p4w-ipb.com

-  Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri
dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan
proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat
menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi ini
berbasis di Bogor. Informasi lebih jauh mengenai organisasi ini dapat dijumpai pada website
http://fwi.or.id.

-  Komunitas Peduli Ciliwung (KPC-Bogor) merupakan kelompok masyarakat yang berupaya
menginspirasi warga terhadap pentingnya lingkungan sungai yang sehat. Sejak awal berdiri
selalu mengedepankan arti dari kesederhanaan dan teladan berbanding aktivitas yang sulit
sekali ditiru. Oleh karenanya pilihan-pilihan kegiatan adalah memungut sampah di sungai
dan menanam pohon pada bantaran sungai. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di
http://tjiliwoeng.blogspot.com.

-  Daerah Tangkapan Air merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penangkap air sementara
pada wilayah puncak dan punggungan suatu daratan. Wilayah ini dicirikan dengan
kemampuannya untuk  menahan air dan menyalurkannya ke dalam tanah sebelum dialirkan
kembali ke permukaan. Semakin lebat dan asli vegetasi yang berada di wilayah ini secara
otomatis kemampuannya pun semakin baik. Contoh dari hubungan yang baik dari Daerah
Tangkapan Air adalah keberadaan wilayah berhutan di Gunung Rinjani, Pulau Lombok.
Kehilangan tutupan hutan di kawasan Gunung Rinjani, otomatis akan mematikan kehidupan
pertanian dan perkebunan di pulau tersebut.

-  Dari enam Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bogor yang menghilir ke Propinsi DKI Jakarta,
hanya  DAS Ciliwung yang memiliki tutupan hutan, itu pun hanya seluas 3.565 ha (12,22%).
Secara total prosentase  tutupan  hutan  dari  enam  buah  DAS  yang  menghilir  ke  Propinsi
DKI  Jakarta  hanya 4,30%, sangat kritis untuk menyangga Jakarta.

-  DAS Ciliwung dengan luas total mencapai hampir 39.000 ha, dan 29.000 ha bagiannya ada di
Kabupaten Bogor. Tutupan hutan berupa hamparan yang tersisa hanya 9,2%, terletak di
bagian hulu, yaitu Kawasan Puncak. Sangat kecil dan masih akan mengecil. Pada periode
tahun 2000-2009 tutupan hutan yang musnah di DAS Ciliwung mendekati 5.000 ha, sedikit
lebih luas daripada Kota Sukabumi.

KONTAK UNTUK WAWANCARA:

Tedja  Kusumah, Koordinator puncak.org
E-mail: save@puncak.org
Telepon: 085213154918

DR. Ernan Rustiadi, M.Agr, Dekan Fakultas Pertanian, IPB, dan peneliti senior pada Pusat Pengkajian
dan Pengembangan Wilayah (P4W), Institut Pertanian Bogor
E-mail: ernan@indo.net.id
Telepon: 0812 947 1939

Sudirman Asun, Ketua Ciliwung Institute
E-mail: sudirmanasun@yahoo.com
Telepon: 02171140277 atau 081212125108

Hari Yanto, Staff Kampanye Forest Watch Indonesia
E-mail: hari@fwi.or.id
Telepon: 08561235298

Untuk kebutuhan peta dan foto, silakan menghubungi:
Muhammad Arifin
E-mail: pin_arts@yahoo.com
Telepon: 081254045551 

Jumat, 21 Maret 2014

Hari Air Sedunia 2014 - Mari Bantu Masyarakat Lokal untuk Turut Menjaga Lingkungan Sekitar

Siaran Pers - Konservasi Hulu Cai


Pembangunan Puncak Daerah Wisata Tidak Terarah Menjadi Kota Kumuh Tanpa Perencanaan Yang Jelas

Bogor, 22 Maret 2014. Masyarakat lokal di wilayah Puncak, Bogor diminta untuk lebih aktif turut serta dalam menjaga lingkungannya. Pernyataan ini diungkapkan para penggiat lingkungan diwilayah Puncak dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia. Kondisi terkini, masyarakat lokal Puncak telah mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih dari lingkungannya. Padahal hak atas lingkungan hidup yang sehat dan bersih (termasuk air bersih) adalah Hak Asasi Manusia, dan hak ini telah dijamin konstitusi Indonesia, UUD 1945 pasal 33.

Peringatan Hari Air Sedunia dilaksanakan setiap tanggal 22 Maret. Hari Air Sedunia dicetuskan pertama kali saat digelar United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Pada Sidang Umum PBB ke-47, tanggal 22 Desember 1992, ditetapkan Resolusi Nomor 147/1993 tentang Pelaksanaan Peringatan Hari Air se-Dunia, setiap tanggal 22 Maret.

Kawasan Puncak di Bogor selama ini telah ditetapkan sebagai kawasan lindung secara nasional melalui Perpres No. 54 /2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur (Jabodetabekpunjur). Pada PP No 26/ 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional disebutkan juga bahwa Jabodetabekpunjur telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Hal ini ditenggarai karena pemerintah masih melihat bahwa kawasan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi banyak wilayah dibawahnya, yang diperuntukan untuk pertanian, pemukiman, dan industri di Bogor, Depok, Jakarta dan Bekasi.

Pada saat ini secara lokal, banjir tidak hanya terjadi di wilayah hilir dan tengah dari sungai yang mengalir dari Puncak. Teja Kusumah dari kelompok puncak.org mengungkapkan bahwa, “Pada tahun 2014 ini beberapa rumah dan Villa di Desa Tugu Selatan dan Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Puncak, Bogor roboh diterjang banjir. Secara tidak langsung kejadian tersebut membantu pemerintah Bogor untuk membongkar villa”. Selanjutnya dijelaskan bahwa, “Pipa air hasil swadaya masyarakat lokal pun saat ini menjadi tulang punggung masyarakat untuk mendapatkan air bersih, karena masyarakat kesulitan untuk memanfaatkan air bersih secara langsung dari sungai di sekitarnya”.

Puncak merupakan salah satu daerah wisata favorit warga Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari ramainya pengunjung di setiap akhir pekan. Namun karena hal tersebut, daerah wisata ini setiap akhir pekannya turut andil dalam menyumbang sampah yang cukup besar, bahkan melebihi kapasitas.

Sudirman Asun dari Ciliwung Institute menyatakan, “Di sisi positif sektor Pariwisata memberi kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bogor, namun tidak diimbangi kompensasi untuk penanganan sampah yang dihasilkan sektor wisata”. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang minim untuk tempat pembuangan sampah dan minimnya daya pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan dan Pertanaman (DKP). Pengangkutan sampah hanya dilakukan sekali seminggu dengan daya dukung 10 truk sampah. Selain itu sampah yang diambil hanya yang berada di jalur utama Jalan Raya Puncak. Sehingga sampah-sampah yang tidak tertangani dan terangkut oleh DKP akhirnya dibuang menumpuk di sudut kampong, pinggir jalan, di saluran air, di bawah jembatan dan jatuh mengalir ke aliran sungai sebagai titik permukaan terendah yang dapat menyumbat aliran dan mencemari kualitas air. Bila terus dibiarkan, akhirnya Puncak sebagai daerah tujuan wisata tidak lagi nyaman dan terkesan kumuh karena sampah berserakan dimana-mana dan akan semakin sepi karena lama-lama pengunjung akan meninggalkannya.

Hari Yanto dari Forest Watch Indonesia (FWI) mengatakan bahwa, “Tutupan hutan yang masih tersisa di DAS Ciliwung, sebagian besar berada di Kecamatan Megamendung dan Cisarua, dan hanya 2.500 ha yang tertutupi hutan”. Selain itu, dari DAS Ciliwung di Kawasan Puncak inilah satu-satunya DAS yang ada sebagai penyangga wilayah di bawahnya, termasuk Jakarta.


CATATAN UNTUK EDITOR:
  • puncak.org merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki visi, misi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah alam di Kawasan Puncak sebagai kawasan penyangga ibu kota. Saat ini buffer zone tersebut sudah rusak dan berubah menjadi kota kumuh tanpa perencanaan. Fokus puncak.org saat ini adalah mencari solusi tentang sampah juga kampanye lingkungan tentang penanaman pohon bambu dan aren melalui Komunitas Ciliwung Puncak. Informasi lebih jauh tentang puncak.org bisa diakses melalui http://puncak.org.
  • Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor, Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.org.
  • Ciliwung Institute berharap ke depan Puncak bisa diperbaiki dengan menerapkan Ecotourism yang ramah terhadap air dan daerah hijau yang asri. Zerowaste bisa dimulai diperkenalkan kepada warga maupun pelaku sektor wisata seperti pemilik hotel dan villa. Penanganan sampah bisa dilakukan mandiri dalam zona yang lebih kecil seperti setiap perkampungan, hotel dan villa mempunyai penangan sampah yang dihasilkan.
  • Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi ini berbasis di Bogor. Informasi lebih jauh mengenai organisasi ini dapat dijumpai pada website http://fwi.or.id.
  • Dari enam Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Bogor yang menghilir ke Propinsi DKI Jakarta, hanya DAS Ciliwung yang memiliki tutupan hutan, itu pun hanya seluas 3.565 ha (12,22%). Secara total prosentase tutupan hutan dari enam buah DAS yang menghilir ke Propinsi DKI Jakarta hanya 4,30%, sangat kritis untuk menyangga Jakarta.
  • DAS Ciliwung dengan luas total mencapai hampir 39.000 ha, dan 29.000 ha bagiannya ada di Kabupaten Bogor. Tutupan hutan berupa hamparan yang tersisa hanya 9,2%, terletak di bagian hulu, yaitu Kawasan Puncak. Sangat kecil dan masih akan mengecil. Pada periode tahun 2000-2009 tutupan hutan yang musnah di DAS Ciliwung mendekati 5.000 ha, sedikit lebih luas daripada Kota Sukabumi.

KONTAK UNTUK WAWANCARA:
Teja Kusumah, Koordinator puncak.org
E-mail: save@puncak.org
Telepon: 085213154918

Sudirman Asun, Ketua Ciliwung Institute
E-mail: sudirmanasun@yahoo.com
Telepon: 02171140277 atau 081212125108

Hari Yanto, Staff Program Daerah tangkapan Air (DTA) FWI
E-mail: hari@fwi.or.id
Telepon: 08561235298

Untuk kebutuhan peta dan foto, silakan menghubungi:
Sudirman Asun
E-mail: sudirmanasun@yahoo.com
Telepon: 02171140277 atau 081212125108

Kamis, 20 Maret 2014

Undangan Peringatan Hari Air Dunia “Konservasi Hulu Cai” Ciliwung

Sampah Styrofoam kemasan makanan mencemari hulu Sungai Ciliwung mulai dari Sungai Cisampay Tugu Selatan 19 Februari 2014. 
Sampah Styrofoam dihasilkan oleh daerah wisata Kebun Teh Gunung Mas - Puncak diantaranya Kemasan  Styrofoam HokBen, KFC, Pop Mie .
Lokasi penemuan tumpukan styrofoam dalam jumlah besar sangat disayangkan mengingat daerah tersebut berada di kawasan hulu, 1 Km dari titik nol hulu Cisampay.
Bisa dibayangkan berapa banyak styrofoam yang akan hanyut sepanjang Ciliwung sampai muara di Jakarta dan pantai laut Kep. Seribu.


Cisampay merupakan ekosistem sungai yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Mungkin tidak seperti Ciliwung yang selalu dibicarakan banyak orang terutama orang Jakarta pada saat ibukota negara ini banjir, kata Cisampay tidak terlalu banyak terdengar. Sebagai salah satu anak Sungai Ciliwung, Cisampay memiliki peran penting dan harus dilestarikan.

Pencemaran lingkungan sudah dimulai dari daerah hulu, hal ini seharusnya menjadi prioritas para pihak untuk menghentikannya agar perbaikan di daerah hilir menjadi lebih mudah dan cepat untuk dilakukan. Daerah hulu sebagai daerah penyangga butuh perhatian dan tindakan nyata segera.

TUJUAN
1.     Mempertemukan ide-ide kreatif dan inisiatif unik yang dapat memulai dan mendukung program dalam upaya pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.
2.     Memperkuat kerjasama dan sinergitas antara masyarakat, Perkebunan Teh Gunung Mas, dan pemerintah.
3.     Mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan sekitar.

OUTPUT
1.     Langkah-langkah tindak lanjut hasil ekspedisi ini yang dapat menjadi panduan bagi upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.
2.     Nota kesepahaman antara Komunitas Ciliwung Puncak, Perkebunan Teh Gunung Mas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.

TEMA
Tema kegiatan ini adalah “Konservasi Hulu Cai”
WAKTU DAN TEMPAT
Konservasi Hulu Cai akan diadakan pada:
Hari                :  Sabtu - Minggu
Tanggal         : 22 – 23 Maret 2014
Jam                 : 08:00 – selesai
Tempat          : Rungkun Awi, Jalan Raya Puncak Pra Asia Afrika 9
                         Tugu Selatan, Cisarua, Bogor 16750

Informasi Lengkap Hub : Tedja Kusumah 085213154918


HARI & TANGGAL
JAM
KEGIATAN
LOKASI
Sabtu, 22 Maret 2014
07:00 - 08:00
Registrasi
Pos
08:00 - 11:30
Menuju Curug Cisampay
Aliran Air
11:30 - 12:30
I S H O M A
Curug Cisampay
12:30 - 15:00
Kembali ke Perkemahan
Aliran Air
15:00 - 15:30
Pembagian Tenda
Perkemahan
15:30 - 18:30
Check In - Nyaneut - Istirahat
Gunung Mas
18:30 - 20:00
Makan Malam
Perkemahan
20:00 - 22:00
Diskusi & Silaturahmi
Perkemahan
22:00 - 23:00
Jagung & Bandrek
Perkemahan
23:00 - 05:00
Tidur
Perkemahan
Minggu, 23 Maret 2014
06:30 - 07:00
Senam Pagi
Perkemahan
07:00 - 07:30
Sarapan Pagi
Perkemahan
07:30 - 08:00
Briefing
Perkemahan
08:00 - 08:05
Indonesia Raya
Perkemahan
08:05 - 10:00
Mulung Sampah & Biotilik
Perkemahan
10:00 - 10:10
Pembukaan (seni sunda)
Perkemahan
10:10 - 10:20
Sambutan-sambutan
Perkemahan
10:20 - 11:30
Sarasehan
Perkemahan
11:30 - 11:50
Pentas Seni
Panggung
11:50 - 13:00
I S H O M A
Perkemahan
13:00 - 15:00
D I S K U S I
Perkemahan
15:00 - 15:15
Penutupan
Perkemahan
15:15 - 16:00
Nyaneut - Seni -Selesai Acara
Perkemahan



Hari Ciliwung

Hari Ciliwung
Klik pada gambar

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top