Tampilkan postingan dengan label Info Terkini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Terkini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Pembibitan Pohon Lokal Komunitas Ciliwung

Pembibitan Pohon Lokal Komunitas Ciliwung.



Advokasi dan perlindungan pohon lokal yang terancam punah, advokasi terhadap indentitas kelokalan Indonesia.

Indonesia Bangsa yang kehilangan indentitas, seperti label bangsa agraris, bangsa bahari kita tak pernah memberi apresiasi dan kesejahteraan untuk petani dan nelayan Indonesia.

Ditengah serbuaan buah impor, maraknya penanaman pohon introduksi asing secara serampangan seperti pohon Trembesi dan pohon HTI lainnya membuat generasi baru banyak yang tidak mengenal potensi dan kekayaan pohon lokal kita.

Bibit Lokal yang diperbanyak seperti menteng, kemang, pucung, lobi lobi, alkesa, nam nam, rukem, kokosan, bisbul, kecapi, buni, jamblang, kueni, tembolok , bembem, bacang, durian, manggis, gowok, Jengkol, dan ragam jenis rambutandan bambu.

Bibit bibit ini akan ditanam sepanjang sempadan sungai dengan konsep konservasi dan pemeliharan vegetasi sempadan sungai untuk mencegah longsor dan erosi bantaran sungai Ciliwung.

Lokasi: Pembibitan Pohon Lokal
Komunitas Ciliwung Bojonggede


Senin, 28 Januari 2013

Betapa Rapuhnya Kota Jakarta Ibukota Indonesia


Betapa Rapuhnya Kota Jakarta Ibukota Indonesia.
Ancaman Lumpuh Karena Banjir Menanti Setiap Saat Musim Penghujan.....
(foto : Luapan Banjir Ciliwung Bojonggede Menuju Jakarta 8 January 2013 pukul 16.00)

MisKordinasi antar Pemprov dan Pemerintah Pusat Yang berjalan sendiri sendiri
Desentralisasi Otonomi daerah yang keblabasan membuat masing masing PEMDA berlomba lomba menaikan Pendapatan Daerahnya tanpa ada pengkajiaan AMDAL dan kelestariaan lingkungan yang berkesinambungan.

Pembangunan fisik dan infrastruktur lebih dipentingkan daripada keseimbangan satu ekosistem.

Konsep Megapolitan Jakarta yang didukung oleh Kota Penyangga sebagai Satelit yang saling mendukung lingkungan bersama yang berkesinamabungan hanya sebatas wacana (JaBoDeTaBekJur).

Kota Jakarta sebagai dataran rendah hilir dari 13 sungai Salah Satunya Ciliwung sebagai terbesar dengan hulu hulu sungai yang berasal dari provinsi Jawa Barat begitu juga sungai lain yang melewati Provinsi Banten.

Pemerintah Pusat sebagai pengelola sungai yang melintasi 2 Provinsi atau lebih harus bisa sebagai leader yang efektif dan memayungi kepentingan 2 provinsi dan lebih mementingan kesinambungan ekologi sungai dan pencegahan bencana berjalan efektif.

Kamis, 06 Desember 2012

Kunjungan Ciliwung Institute ke Kalimulya, Depok


Rabu,5 Desember pegiat lingkungan dan Komunitas Ciliwung berkunjung ke Ciliwung Kalimulya meninjau perekmbangan pembangunan pada bantaran sungainya.Lokasi yang ditinjau adalah perluasan perumahan Taman Anyelir 3.Pada malam hari anjangsana dilanjutkan dengan evaluasi dan rapat persiapan pembubaran panitia hari Ciliwung dan diskusi tentang kelembagaan pegiat Ciliwung termasuk efektifitas penggunaan jejaring sosial.

Jamur Tudung Pengantin - Phallus Indusiatus Vent.


Jamur Tudung Pengantin Phallus indusiatus 
Vent. (1798)
(Lokasi : Ciliwung Condet 4 Des 2012)

Jamur langka yang berpenampilan cukup unik dengan struktur seperti jaring yang disebut indusium (atau kurang teknis "rok") yang menggantung dari kerucut ke lonceng berbentuk topi seperti kerudung pengantin atau cadar jaring perempuan bangsawan Eropa.

Jamur ini menghasilkan bau bauan yang menarik perhatian Serangga sehingga membantu penyebaran spora dengan mengkonsumsi Gleba dan deposito kotoran yang mengandung spora utuh untuk berkecambah di tempat lain. Meskipun fungsi indusium ini tidak diketahui pasti, secara visual dapat menarik serangga tidak dinyatakan tertarik dengan bau, dan berfungsi sebagai tangga untuk merangkak serangga untuk mencapai Gleba.

Di beberapa negara seperti China, jamur ini dimanfaatkan sebagai obat obatan dan telah berhasil di budidayakan, sangat disayangkan di Indonesia, jamur jamur yang bisa dimanfaatkan sebagai farmasi dan obat obatan belum tergarap penuh dan kurang menarik perhatiaan utnuk diadakan penelitian dan pengembangan manfaat jamur jamuran selain sebagai bahan makanan.

(dari berbagai sumber)


Surat Bocah Ciliwung Telah Diantar dan Disampaikan Kepada Presiden RI


Surat Bocah Ciliwung Telah Diantar dan Disampaikan Kepada Presiden RI.

Penyampaian surat kepada Presiden RI dari bocah Ciliwung, sebanyak 6 pucuk surat dari pemenang lomba menulis surat ( 3 surat hasil karya Siswa Sekolah Dasar/SD dan 3 surat dari Siwa Sekolah Menengah Pertama/SMP).

Lomba Anak Ciliwung Menulis Surat Untuk Presiden
"Harapanku Untuk Masa Depan Ciliwung" diselenggarkan panitia #HariCiliwung1111, berhasil mengumpulkan total 109 surat dari anak anak Jabodetabek yang diantar langsung, email maupun dikirim melalui jasa pos.

Dari total 109 pucuk surat, tersortir sebanyak 43 yg terpilih terdiri dari 24 SD dan 19 SMP yang akan dibundel menjadi sebuah buku "Kumpulan Surat Bocah Ciliwung Untuk Presiden".

Pensortiran surat yang masuk oleh kakak kakak pendongeng Kak Dwi Dongeng Kanvas Klub , Kak Ryan Dongeng Shahrezade , Kak Riyan Boyan.

Sedang Penjurian Lomba Menulis Surat oleh:
1. Kak Ucon (Pendongeng)
2. Bpk. M. Ilham Sembodo (aktivis pendidikan)
3. Bu Endah Taufiq (penulis naskah/pengajar/ Produser TVRI)
4. Bu Wildasari Hoste (aktivis ciliwung)
5. Bu Sri Mulyani (guru dan penyiar radio)


Jumat, 02 November 2012

Susur Ciliwung For KIDS




Susur Ciliwung For KIDS,
setiap Jumat Sore 15.00 di Komunitas Ciliwung Condet

Seberapa kita mengenali Sungai Ciliwung, Seberapa rasa memiliki kita terhadap Ciliwung,
Ciliwung dengan persoalannya, Ciliwung dengan potensi air tawarnya .Potensi Keilmuannya, Laboratorium Hidup yang siap untuk kita jelajahi.

Ayo Kunjungi Sungai kita.
Beri Energi Positif untuk Perbaikan Ciliwung.

Model :
Kunjungan SDIT Nurul Fikri Depok.

Makna Kunjungan Jokowi ke Gedung Sate dan Nasib Citarum-Ciliwung



Kedua bahasan itulah yang membuat saya bersemangat sekali menulis ini. Bicara banjir Jakarta dan bicara penyediaan air bersih untuk Jakarta, tentunya bicara Sungai Citarum dan bicara Sungai Ciliwung yang keduanya, berhulu di satu provinsi, Jawa Barat. Menariknya, karena kedua hulu sungai besar di Indonesia tersebut di Jawa Barat, tapi dampaknya justru melintasi luar Jawa Barat.

Sehingga, muncul pertanyaan kritis. “Hey pak Aher, Perhutani dan BKSDA, kerjaan anak buah bapa apa selama ini, bagaimana konservasi hutan di hulu kedua sungai tersebut?”. Pertanyaan kedua, bagaimana dengan kabar perbaikan Saluran Tarum Barat di Bekasi dan Karawang yang didanai melalui program Integrated Citarum Water Resource Management Investment Programme (ICWRMIP) . Sekedar mengingatkan, Saluran Tarum Barat ini merupakan aliran dari Sungai Citarum yang sengaja dialirkan ke Jakarta untuk penyediaan air baku melalui PDAM.

Kedua sungai besar yang berada di Jawa Barat ini menjadi penyebab banjir. Sungai Citarum meluap, beberapa daerah di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat tergenang air. Penyebabnya, kritisnya kawasan hutan di hulu Sungai Citarum di Kabupaten Bandung sehingga membuat sungai menjadi dangkal karena proses sedimentasi. Kemudian, sungai menjadi dangkal karena sedimentasi lumpur, membuat run off atau kecepatan air sungai menjadi cepat sehingga, mempercepat proses terjadinya banjir serta menambah wilayah genangan air.

Sebagai gambaran, di hulu Sungai Citarum, telah terjadi proses deforestrasi hutan yang begitu besar dalam kurun waktu 9 tahun. Jika tahun 2000, tegakkan pohon di sekitar hulu sungai mencapai 27.966 hektare, maka tahun 2009 berubah drastis menjadi 4.566 hektare. Itu untuk hulu Sungai Citarum saja, belum lagi, deforestrasi hutan di sekitar hulu anak sungai citarum. Sebagai gambaran, saya tuliskan beberapa data yang saya miliki dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum :
1. Sub Das Cirasea Lahan kritis : 3.234 hektare. Sedimentasi: 1.755.517 ton/tahun.
2. Sub Das Cisangkuy Lahan kritis : 6.084 hektare. Sedimentasi: 1.332.692 ton/thn
3. Sub Das Ciminyak Lahan Kritis: 4.626 hektare. Sedimentasi 1.132. 692 ton/tahun.
4. Sub Das Cikapundung Lahan Kritis: 3.865 hektare. Sedimentasi: 1.023.347 ton/tahun.
5. Sub Das Cihaur Lahan Krisis 2.447 hektare. Sedimentasi 857.446 ton/tahun.
6. Sub Das Ciwidey Lahan Kritis 1.982 hektare. Sedimentasi 1.023.891 ton/tahun.
7. Sub Das Citarik Lahan Kritis 3.782 hektare Sedimentasi 773.001 ton/tahun.


Sebelum membahas ke hal lain, saya ulas sedikit mengenai Tarum Barat. Penanggulangan Tarum Barat termasuk agenda pertama dari program ICWRMIP yang sebagian dananya berasal loan dari Asian Development Bank, Jica dan World Bank. Dalam agenda pertamanya itu, tidak hanya soal penyediaan air bersih untuk Jakarta, tapi juga penyediaan air untuk irigasi lahan pertanian di Kabupaten Karawang. ICWRMIP untuk program di Tarum Barat ini, kalau tidak salah berjalan dari 2008 dan ditargetkan selama 5 tahun hingga 2013. Total ICWRMIP ini sendiri sampai 2025.
“Hey Heryawan, jangan gampang keluarin izin pembangunan di kawasan konservasi dong, rakyat gue yang kena dampaknya,”.



Bisa dibayangkan, dengan kondisi hutan yang gundul kemudian menciptakan erosi dan berdampak pada pendangkalan sungai karena sedimentasi, aliran air begitu deras akan mengalir.
Permasalahan deforestrasi hutan di hulu sungai dan Das Citarum, tidak terlepas dari kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan keterbatasan kepemilikan lahan untuk berkebun atau bertani. Karena hanya dengan dua cara itu, mereka bisa bertahan hidup. Tapi karena terbatas, pembukaan lahan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan dan pertanian, dianggap bukan sebagai masalah.

Sebagai gambaran, luas perkebunan sayur di sekitar Kecamatan Kertasari pada tahun 1992 mencapai 6000 hektare kemudian meningkat menjadi 37000 hektare pada tahun 2002. Luasan kebun sayur kemungkinan luasnya bertambah saat ini.

Karena itu, penangan Sungai Citarum, tidak semata soal normalisasi dalam bentuk pengerukkan atau pembuatan waduk-waduk buatan, untuk menampung air saat Sungai Citarum atau anak-anak sungainya meluap, tapi juga soal bagaimana masyarakat desa di sekitar hutan bisa berdaya tanpa harus membabad hutan.

Hal yang dibahas oleh Jokowi saat kunjungan ke Gedung Sate juga membahas soal penyediaan air bersih dari Sungai Citarum melalui saluran Tarum Barat.
Untuk membahas hal tersebut, di samping Citarum sebagai subjek yang sering disalahkan karena menimbulkan banjir, Citarum juga sudah tercemar dengan berbagai limbah, mulai dari limbah peternakan dan limbah pupuk di hulu Sungai Citarum, limbah industri di Kabupaten Bandung hingga masalah keramba apung di waduk Jatiluhur.

Untuk sementara, saya kembali mengulas sedikit run off air Sungai Citarum yang deras karena pendangkalan. Arus sungai yang deras menandakan volume air yang meningkat. Itu sebenarnya sangat bermanfaat ketika dialirkan ke Saluran Tarum Barat menuju Jakarta untuk penyediaan air baku. Tapi permasalahannya, meski debit air sungai begitu besar, tapi jika kualitas air Sungai Citarum yang sudah tercemar berbagai limbah dari Jawa Barat, apa debit air yang besar tersebut bisa bermanfaat untuk penyediaan air baku, apalagi digunakan oleh 80 persen warga Jakarta. Tentunya kan tidak.

Nah, saya pikir, itulah point pertama permasalahan yang dibahas Jokowi bersama Gubernur Ahmad Heryawan di Gedung Sate kemarin. Secara komunikasi politik, Jokowi hendak berkada pada Ahmad Heryawan,
“Hey Gubernur Jabar, Citarum banyak limbah, segera perbaiki, masa warga saya di DKI minum air limbah“.

Setelah penyelesaian Tarum Barat tersebut, program ICWRMIP menjalankan program pemanfaatan Sungai Citarum di sektor lain karena semua pihak meyakini bahwa Sungai Citarum penyelesaianya lintas sektoral, seperti kesehatan, kehutanan, lingkungan hidup, pertanian, infrastruktur, penegakkan hukum lingkungan.
Program ICWRMIP di Tarum Barat ini juga menuai kritik. Pasalnya, masalah krusial Citarum bukan terletak di Tarum Barat sendiri. Melainkan di hulu Sungai Citarum yang berada di Kabupaten Bandung, mulai dari masalah konservasi hutan, peneggakan hukum lingkungan terkait pencemaran limbah hingga kesehatan masyarakat yang terkena dampak limbah Sungai Citarum.
Jokowi juga membahas mengenai banjir Jakarta karena luapan Sungai Ciliwung bersama Gubernur Ahmad Heryawan. Pertanyaanya, banjir di Jakarta, kenapa Jokowi datang ke Gedung Sate. Tentu saja, karena hulu Sungai Ciliwung, berada di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Dan kondisinya sudah kritis.
Permasalahan banjir di Jakarta karena meluapnya Sungai Ciliwung, kurang lebih penyebabnya sama seperti di Jawa Barat, yakni deforestrasi hutan yang berdampak erosi, sedimentasi, pendangkalan, run off air yang deras, hingga banjir.

Namun, bedanya, jika di hulu Sungai Citarum deforestrasi hutan karena pembukaan hutan untuk lahan perkebunan, di hulu Sungai Ciliwung, deforestrasi hutan untuk pembangunan rumah, villa dan bangunan lainnya.
Sama halnya dengan Citarum yang memiliki banyak anak sungai, Ciliwung pun demikian. Jadi, selain deforestrasi di hulu Sungai Ciliwung, deforestrasi juga terjadi di anak-anak Sungai Ciliwung.
Penanganan banjir di Jakarta saya pikir terbilang maju di banding di Jawa Barat. Jika di Jakarta sudah membuat waduk-waduk buatan untuk menampung luapan air Ciliwung, justru di Jawa Barat, konsep waduk buatan baru sebatas wacana. Kalaupun memang ada, waduk buatan tersebut belum menjadi prioritas. Bahkan, warga di Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, malah ada yang merelakan sebagian tanahnya dihibahkan untuk dibuat danau buatan.

Di Jawa Barat sendiri, penangan banjir saat ini lebih difokuskan pada pengerukkan Sungai Citarum. Sampai saat ini sendiri masih berjalan. Tapi, tetap saja, baik pembuatan waduk buatan di Jakarta maupun pengerukkan di Jawa Barat, penanganan banjir harus di mulai dari hulu sungai.
Dari permasalahan kedua sungai tersebut yang hulunya berada di Jawa Barat, kunjungan Jokowi ke Gedung Sate, bermakna sebuahh pertanyaan dan pernyatan kritis pada Pemprov Jabar ; Izin pembangunan di kawasan konservasi yang meliputi hlu sungai, baik Citarum maupun Ciliwung yang tidak terkontrol dan kemampuan Pemprov Jabar dalam menjaga ekologi hutan untuk sungai yang bersih dan aman.
Sederhananya, secara komunikasi politik, Jokowi hendak bertanya pada Ahmad Heryawan
Sehari setelah mengunjungi Gubernur Jabar, saya dapat info bahwa Jokowi langsung mendatangi Dirjen Sumber Daya Air dan Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto. Info yang saya dapat, Jokowi mengajukan banyak pertanyaan soal penanggulangan Tarum Barat, termasuk soal pembiayaannya.
Selain itu, kedatangan Jokowi ke Gedung Sate juga saya pikir, langkah baru dari political will penentu kebijakan bagi penyelesaian masalah Citarum dan Ciliwung. Pasalnya, permasalahan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh satu pemerintah daerah saja.

oleh : Mega Nugraha

Ciliwung, oleh Asih Azzahra


Apa yang akan kamu katakan jika kamu mendengar kata Ciliwung? Akan banyak pendapat mengenai apa itu ciliwung. Ciliwung dulu, sekarang dan ciliwung masa depan.

Ciliwung dulu ya ciliwung yang dulu pasti beda lah mah ciliwung sekarang (ye.. kalau gitu ane juga tau) Ciliwung dulu itu masih amat sangat bermanfaat ga kaya sekarang ini dulu Para serdadu Belanda dan masyarakat Batavia menggunakan air bersih yang mengalir di kali Ciliwung untuk kebutuhan rumah tangga. Bahwa dulu nona nona Belanda menggunakan perahu sambil menikmati keindahan ciliwung yang di sekitarnya terdapat banyak bebek atau angsa. Masa Batavia dulu, gedung kecil persegi delapan itu banyak membantu serdadu Kumpeni Belanda. Karena di situlah mengalir air bersih yg dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak cuma bagi serdadu Kompeni Belanda tapi juga dimanfaatkan minum bagi kuda-kuda serdadu usai mengadakan perjalanan jauh. Air tersebut disalurkan dari Kali Ciliwung lewat saluran yang dibuat di bawah tanah dari batu bata. Saluran ini dimulai di Pancoran Glodok. Nama yang kini masih dipakai untuk Glodok Pancoran Jakarta Barat.

Dari gedung kecil persegi delapan ini saluran air bersih kemudian diteruskan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Kapal-kapal yang singgah di pelabuhan ini banyak memanfaatkan air untuk kebutuhan sebelum kapal berlayar berbulan-bulan untuk mengambil rempah-rempah. Bahkan kapal-kapal bukan milik Belanda pun memanfaatkan air dari gedung kecil persegi delapan ini. Tidak hanya itu, air di masa itu masih bersih dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Karena memang semasa Batavia dulu Kali Ciliwung adalah sumber bahan baku air bersih untuk kebutuhan masyarakat. Konon ceritanya, sejarah nama Glodok, berasal dari suara percikan air yang berada di gedung kecil persegi delapan tersebut. Bunyi airnya gerogok gerogok…
 Sehingga kemudian bunyi yang bersumber dari gedung kecil persegi delapan itu dieja penduduk pribumi sebagai Glodok. Entah benar atau tidak, yang pasti nama Glodok itu hingga kini tetap tersohor sebagai salah satu kawasan bisnis.

itulah sekelumit Ciliwung di masa dulu yang ane tau.. Terus bagaimana dengan Ciliwung sekarang? Tanda tanya besar untuk Ciliwung sekarang entah kita sebagai rakyat Jakarta yang tidak menghargai sejarah, apalagi merawatnya. Sehingga peninggalan benda-benda bersejarah yang dimiliki, nyaris terabaikan. Air kali Ciliwung yang dulu digunakan sebagai bahan baku air bersih bagi warga, kini hanya kenangan.
Sepanjang kali Ciliwung sudah dipenuhi sampah, hingga airnya berwarna hitam kecoklat-coklatan. Sehingga, melihatnya saja, sudah tidak ingin, apalagi menggunakannya.

Begitu juga gedung kecil persegi delapan yang saat ini  masih berdiri tapi kondisinya sangat berbeda jauh  dengan situasi aslinya. Kini, gedung kecil persegi delapan itu membisu. Ia tidak mengeluarkan air lagi. Malah, sebaliknya sering dijadikan tempat untuk membuang sampah.

Perilaku rakyat Jakarta lah (termaksud kita kali yah.. hehe) dituding menjadi penyebab terjadinya banjir atau genangan. Membuang sampah sembarangan sehingga drainase menjadi tersumbat memang merupakan pemandangan sehari-hari, terutama di wilayah-wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Curah hujan yang tinggi, penumpukan sampah, pendangkalan sungai, drainase buruk, dan minimnya tanah resapan, merupakan penyebab banjir di Jakarta yang sudah lama teridentifikasi. Pesatnya urbanisasi ke Jakarta menjadi salah satu faktor kondisi ini.

Tidak diperkirakan sebelumnya, dalam kurun waktu seratus tahun saja sungai-sungai di Jakarta telah mengalami penurunan kualitas sangat besar. Pada abad XIX, air sungai-sungai di Jakarta masih bening sehingga bisa digunakan untuk minum, mandi, dan mencuci pakaian.

Bahkan ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung banyak dipuji-puji pendatang asing. Disebutkan, pada abad 25 sampai 26 Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota. Hal ini sangat dirasakan para pedagang yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika itu Ciliwung mampu menampung 10 buah kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton, masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda Kelapa. Kini jangankan kapal besar, kapal kecil saja sulit melayari Ciliwung karena baling-baling kapal hampir selalu tersangkut sampah.
Lanjut.. Semua yang telah terjadi dengan Sungai Ciliwung biarkan terjadi karena semua yang telah kita lakukan tak dapat tertarik kembali. Sama dengan Sungai Ciliwung yang ga akan bisa berfungsi seperti semula. Sekarang ini yang perlu di pikirkan adalah bagaimana menjadikan sungai ciliwung lebih baik lagi ke depannya dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup.
Karna ciliwung itu ada untuk kita dimanfaatkan oleh kita dan kita juga yang harus menjaganya..

Kamis, 01 November 2012

Undangan Publik #HariCiliwung1111 "Konservasi Ekosistem Ciliwung, Selamatkan yang Tersisa"




Ada yang bilang “kepalanya besar, bermata merah dan ada tanduknya..”, dan ada pula yang menyebutkan “bibirnya merah bergincu dan di atas punggungnya seperti ada motif kaligrafi tulisan China” ,begitu misteriusnya sosok makhluk “Senggawangan” bagi sebagian masyarakat Sungai Ciliwung.

Angkatan tua Ciliwung yang masih pernah mengalami masa kejayaan Sungai Ciliwung, menceritakan jaman dimana warga masih sering “ngebak”, bahasa betawi yang artinya ngoyor/ main berenang berlama lama seharian di sungai, sampai mata merah karena sambil menyelam.
Cerita Senggawangan menjadi semisteri cerita monster loch ness di Skotlandia, oleh karena ukurannya yang raksasa dipercaya telah menjadi setengah gaib (hewan siluman), dan tidak ada yang pernah melihat makhluk ini secara utuh.

Selasa, 23 Oktober 2012

Pertemuan Sehari Forum Air Jakarta | 10 Oktober 2012




Krisis Air Bersih Jakarta 

Kota Jakarta dalam situasi kekurangan suplai air bersih, menjadi dilema ketika Kota Jakarta dilintasi 13 sungai besar, hampir sebagian besar tidak bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku sumber air.
sungai sebagai Sumber daya air permukaan rusak karena buruknya pengelolaan oleh sistem.

Disisi lain, Kebutuhan akan air bersih di Jakarta terus meningkat seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk baik dari pertumbuhan penduduk secara alami maupun tingginya urbanisasi ke Kota Jakarta.

Ancaman permukaan tanah Jakarta yang terus menurun tenggelam di bawah permukaan laut karena eksploitasi berlebihan sumber air tanah, membuat pemerintah berusaha membatasi penggunaan air tanah dengan menaikan PAJAK Air Tanah< Konversi Air Sumur Dalam beralih dari air tanah menjadi air perpipaan , Peraturan Gubernur No.37/2009 mengatur Kenaikan Pajak Air Tanah dari Rp. 3.500,-/M3 naik menjadi Rp. 23.000,-/M3 , sebagai penggantinya pemerintah harus bisa memenuhi dan menyediakan kebutuhan penduduk dari sumber air bersih dari sumber daya air permukaan seperti sungai, waduk dan situ.

Jaringan air bersih Jakarta sampai saat ini hanya bisa menjangkau tidak lebih 40- 47% penduduk Jakarta. 
Jumlah penduduk yang makin meningkat tajam, permintaan jumlah gedung, mal apartemen, perkantoran dan areal bisnis yang memerlukan air bersih otomatis akan membuat krisis air bersih makin menjadi jadi.

Kondisi Ketahanan Air Jakarta

- 2,22% kebutuhan pasokan air baku lokal hanya dari Sungai Krukut
- 96% pemenuhan pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur dan pembelian air curah dari PDAM kabupaten Tangerang.
- Pasokan ideal kebutuhan air masih diperlukan tambahan sekitar 10.000 Liter/detik pada tahun 2015

Sampai tahun 2012 PDAM baru sampai kapasitas produksi 17.975 Liter/detik, dan menjangkau 797.151 pelanggan, hal ini masih jauh dari kebutuhan air bersih warga Jakarta yang mencapai 23.936 Liter/detik, sehingga masih kekurangan produksi sekitar 6.061 Liter/detik.

Harapan ke depan ada perbaikan kondisi kualitas air sungai (kualitas baku mutu air dari kelas 4 bisa naik lagi menjadi kelas3) di Jakarta seperti Sungai Ciliwung yang dulu masih potensial sebagai air baku pengolahan air bersih bisa beroperasi kembali

Save Our Ciliwung #SelamatkanYangTersisa

Ciliwung Coklat Kental, Kerusakan Hulu Ciliwung




"Siapa mau minum susu coklat, tuch minum air Ciliwung" sepenggal canda tawa bocah bocah ketika bermain di pinggir Ciliwung dai daerah Condet Jakarta, sekilas air sungai yang berwarna coklat tua terlihat menggugah selera.

Rusaknya Hutan Lindung di daerah Puncak Bogor yang digusur oleh bangunan Villa yang dibangun orang Jakarta, serta Okupasi Sempadan Sungai oleh Pengembang Komplek Perumahan Kota Depok telah membuat longsor, erosi, pengikisan tanah terbawa air hujan hanyut ke aliran Sungai Ciliwung.

Kekentalan air sungai yang berwarna coklat kental karena tingginya kandungan tanah dan sedimen yang larut terbawa air.
Sedimentasi dan pendangkalan akut Sungai Ciliwung makin memperparah daya tampung memperkecil volume terutama pendangkalan akan sangat terasa di daerah hilir,di daerah muara dan pantai sekitarnya.

Memasuki musim hujan terasa sedikit membantu mengatasi kekeringan dan hilangnya debit air sungai setelah beberapa bulan tanpa hujan.
Disisi lain musim hujan membawa kekhawatiran tersendiri akan bahaya banjir dan meluapnya sungai Ciliwung.
Beban Sungai Ciliwung sudah terlampau berat, daerah hulu dan sempadan sungai yang telah menjadi bangunan dan beton tidak kuat lagi menangkap dan menyerap air hujan, dan semuanya jatuh tertumpah ke Ciliwung.

Foto : Ciliwung Pejaten Timur - Jakarta Selatan
11 Oktober 2012


Sabtu, 20 Oktober 2012

Restorasi Kali Ciliwung, Kembangkan Eco-Friendly




SELAIN investasi megaproyek berupa infrastruktur seperti JSS–Jembatan Selat Sunda, JBB–Jembatan Batam-Bintan, rel kereta api BME - Bengkulu-Muara Enim dan pelabuhan samudera di Bengkulu --pantai barat daratan Sumatera—masih banyak projek “anakan” yang terus difinalisasi, melalui Jeju-Initiative 11-12 Oktober itu. Anakan raksasa, seberapa pun kecilnya, tetap berukuran “mega.” Apa saja proyek itu?

Salah satunya, adalah Restorasi Kali Ciliwung yang bermuara di ibu kota Jakarta, sebagai implementasi Koridor II MP3EI yang bakal menjadi salah satu projek percontohan dalam pembenahan kawasan sungai secara holistik dan menusiawi. Bantaran sungai Ciliwung, selama ini dikenal sebagai kawasan kumuh yang jauh dari standar kebersihan dan kesehatan. Di saat musim hujan, kondisinya cukup membahayakan. Di musim kemarau, menjadi pemandangan yang menyentuh rasa kemanusiaan.

Karena itu, salah satu proyek Indonesia-Korea Selatan yang akan sedang dirancang serius adalah, pembenahan kawasan Ciliwung. Terutama di seputar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Kompleks itu bakal disulap menjadi tiga fasilitas penting, yakni sewage treatment facility; educational centre dan  eco-friendly facility. “Projek Ciliwung River Restoration ini sudah kami rancang dengan detail, diharapkan sudah bisa dimulai pada akhir tahun ini, bulan Desember 2012 dengan budget USD 9 juta,” ungkap Hatta Rajasa.

”Dana proyek restorasi sebesar itu, bersumber dari tiga pihak. KEITI USD 2 juta, lalu KOICA USD 5 juta, dan dari Indonesia sebesar USD 2 juta. Pilot projek ini diharapkan akan selesai dalam 30 bulan, sehingga wajah Ciliwung di pusat ibu kota itu akan berubah, menjadi lebih berfungsi, lebih estetik, bermanfaat besar bagi warga Jakarta, dan bisa dijadikan contoh bagi kota-kota besar lain di Indonesia,” paparnya.

Proyek lain adalah, CNG Package Project yang meliputi 3 phase. Yaitu phase pertama, CNG Shipbuilding Project; phase kedua up-stream and gas supply; phase ketiga: power plant. Di phase pertama, sudah selesai dilakukan feasibility study untuk CNG Pilot project. Dari hasil FS tersebut, proyek yang akan mengangkut CNG dari Gresik Jawa Timur ke Muara Tawar Jawa Barat tersebut diperkirakan akan menghemat biaya bahan bakar sebesar 50%. Asal bisa menggantikan diesel dengan gas dari CNG.

Menurut Hatta, Korea siap mendukung proyek ini dalam bentuk pendanaan dan teknologi. Untuk fase kedua yaitu up-stream and gas supply dari Kalimantan Timur ke pembangkit listrik Muara Tawar. Hasil feasibility study menunjukkan, bahwa masih terlalu dini untuk memverifikasi cadangan gas. Jaraknya juga terlalu jauh dari pelabuhan sehingga diperlukan pipa lebih dari 300 km, sehingga tidak terlalu efisien.


Untuk phase ke satu, Kepco mengharapkan dukungan kedua negara untuk Joint venture Kepco dan PLN. Untuk phase kedua, Kepco mengharapkan informasi ladang gas pada tahap produksi yang dekat dengan pesisir dan informasi mengenai ladang gas di Indonesia untuk ukuran kecil dan menengah.

Proyek energi lain, kata Hatta, ada di provinsi kelahirannya, Sumatera Selatan. Persisnya, di Pendopo, yang merupakan proyek kerjasama Posco dengan PLN dengan projek senilai USD 1,02 M, untuk membangun pembangkit berkapasitas 600 MW. Projek ini dikerjakan dalam dua tahap. Skema pengerjaan, melalui BOT, untuk 25 tahun PPA (Power Purchasing Agreement).

”Korea sudah menemukan teknologi up grading, sehingga dengan batubara berkalori rendah pun bisa menghasilkan daya listrik yang signifikan. Karena itu, projek ini bisa menurunkan biaya produksi, menyumbang 3.000 tenaga kerja baru, teknologi ramah lingkungan, dengan mengadopsi CFB – Circulating Fluidized Bed),” ungkap dia yang juga Ketua Umum DPP PAN itu.

Di Pulau Sulawesi, Korea juga akan melakukan investasi. Pilihannya di bidang Agro Based Multi Industry Cluster Project (MIC Project). Projek ini telah diusulkan Korea pada bulan Mei 2011, dengan menawarkan program terpadu. Dari proses pengembangan pertanian, membangun fasilitas pengolahan, penyimpanan dan distribusi melalui model pengembangan kerjasama ekonomi yang menyatu. Pada saat pre-field survey pertama yang dilakukan di atas lahan yang diajukan Indonesia di Pontianak, Kuburaya dan Bulungan di Kalimantan pada Desember 2011, hasilnya tidak cocok karena tanahnya bergambut.

Lalu, lahan yang diajukan Indonesia adalah Mamuju Utara dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dan Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pada tanggal 4-12 Oktober 2012 telah diadakan pre-field survey yang kedua. Rencananya, 2013 akan diadakan feasibilty study berdasarkan hasil survei; dan akan membuat Inter-governemental MoU untuk MIC dan membuat draft Project Master Plan dan tahun 2014 sebagai persiapan pelaksanaan investasi.

Di bidang pertambangan dan perminyakan, PT DSME Korea akan dibuka cabang di Indonesia. Ini sebagai bukti keseriusan Korea dalam meningkatkan kompetensi Offshore Topside dan memperlancar bisnis offshore. DSME sendiri memprogramkan untuk membuka cabang di 5 negara, dan salah satunya Indonesia.

Pertimbangannya, karena memiliki kualitas SDM local yang memadahi. Tahun 2012, DSME Indonesia diharapkan menyerap 100 insinyur Indonesia, dan tahu 2015 sudah ada 350 insinyur Indonesia. Cabang DSME Indonesia itu diproyeksikan akan menggarap pasar seluruh wilayah Asia Tenggara dan Australia. DSME juga akan memberikan program pendidikan bagi insinyur lokal yang bekerja di kantor cabang Indonesia.

Di ujung pertemuan, kedua wakil negara itu menandatangani Joint Declaration of Jeju-Initiative 2012, yang intinya menyepakati bahwa kedua Menteri siap memperkuat semangat kerjasama ekonomi bilateral. Karena presiden kedua negara juga sudah sepakat menindaklanjuti implementasi MP3EI, pada 9 Desember 2012 di Bali.

“Proyek-proyek kerjasama utama dari Jeju Initiative, Korea mengusulkan proyek CNG Package Project, Sumsel-6 Coal Fired Power Project, Agro-based Multi-Industry Cluster dan Pembentukan cabang DSME. Sedangkan Indonesia mengusulkan proyek Bengkulu-Muara Enim Coal Railway, Jembatan selat Sunda, dan Jembatan Batam-Bintan. Sedang usulan kedua belah pihak adalah membangun River Restoration Project di Ciliwung,” kata dia.

Soal pembicaraan bilateral, kata Hatta, Posko juga mengembangkan proyek senilai USD 11 M. Yakni proyek yang terkait dengan energi, pengembangan program bio-fuel, fuel-sell, diesel, energi terbarukan, geothermal. Lalu pengembangan IT dan konstruksi, misalnya rel yang diintegrasikan dengan IT, seperti fiber optic. “Sedangkan human resourches-nya bekerjasama dengan ITB, IPB, dan kerjasama dengan kalangan universitas yang lain,” ungkapnya. (dk)

Rabu, 17 Oktober 2012

Ciliwung pun Dipaksa Minum Susu Cimory



Yang tersulit saat mencintai sesuatu adalah menjaganya, hal itu juga berlaku pada Ciliwung. Sungai di Pulau Jawa dengan panjang hampir 120 km ini sangat kritis kondisinya. Banyak yang menyatakan cinta atau sekedar suka pada Ciliwung, tapi tak banyak yang menjadi bagian untuk menjaganya.
Seorang kawan yang aktif di Ciliwung Institute sempat mengambil sebuah foto terkait dugaan limbah susu Cimory yang dapat mencemari Ciliwung karena dibuang langsung tanpa melalui proses Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), berikut informasi yang saya kutip secara utuh dari mereka: Ciliwung pun Dipaksa Minum Susu Cimory - Pembuangan Limbah Susu Cimory ke Ciliwung Cilember – Puncak. Walaupun tidak se-berbahaya limbah kimia, limbah susu dari pabrik Cimory yg diduga tidak melalui IPAL, dengan cemaran organiknya akan menaikan BOD (Biological Oxygen Demand), dan cemaran limbah susu mengancam biota sungai karena menurunnya kandungan oksigen dalam air. Sudah sepantasnya perusahaan sebesar Cimory memikirkan dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkannya.
Tentang Cimory
PT. Cisarua Mountain Dairy atau yang lebih dikenal dengan nama ‘Cimory’ merupakan Industri Pengolahan Susu (IPS) yang terletak di daerah pegunungan di Cisarua, Puncak. PT. Cisarua Mountain Dairy didirikan pada tahun 2006 dan merupakan salah satu anak perusahaan MACRO Group, yang bergerak di dalam bidang pangan berbasiskan empat protein alami terbaik yaitu daging (PT. Macroprima Panganutama), susu (PT. Cisarua Mountain Dairy), telur (PT. Java Egg Specialities) dan kacang kedelai (PT. Indosoya Sumber Protein).
Berawal dari kepedulian kita terhadap Ciliwung, semoga dapat berbuah cinta untuk menjaganya bersama. Ciliwung bersih dan terjaga adalah warisan paling berarti untuk anak-cucu kita kelak. Semoga!

Hari Ciliwung

Hari Ciliwung
Klik pada gambar

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top