Tampilkan postingan dengan label restorasi ciliwung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label restorasi ciliwung. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 November 2015

Press Release Hari Ciliwung 2015 "Restoration Ciliwung Biodiversity Park"

Press Release 
Hari Ciliwung 2015
Restoration Ciliwung Biodiversity Park

Momentum peringatan hari Ciliwung tahun ini akan digunakan untuk mengevaluasi kegiatan dan aksi komunitas-komunitas  Ciliwung selama tahun 2015 dan sekaligus untuk  merencanakan kegiatan di tahun 2016. Karena itu ada rangkaian sarasehan yang akan dilaksanakan untuk mengkomunikasikan hal itu.  Namun Komunitas sadar sumber daya yang dimiliki sangat terbatas. karena itu, komunitas Ciliwung juga mengajak Pemerintah (Pemprov DKI Jakarta, Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kementerian LHK dan Kementerian PUPR) untuk menjadikan momentum Hari Ciliwung sebagai ajang evaluasi bersama tentang apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah dan komunitas selama tahun 2015 di Ciliwung, apa yang sudah disinergikan, dan yang masih perlu diperkuat di  tahun 2016.

1.      Hari Ciliwung menjadikan Peluang kerjasama antar stakeholder: Pemerintah, komunitas-komunitas Ciliwung, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga donor,  dan warga DAS Ciliwung, di tahun 2016  dan seterusnya antara lain berkaitan dengan isu-isu (1) pengendalian aliran permukaan (run off) untuk ikut mengatasi banjir Ciliwung dan krisis air di DAS Ciliwung, (2) restorasi sungai Ciliwung, (3) pengendalian limbah cair, (4) pengendalian limbah padat,  (5) pengamanan sempadan Ciliwung, (6) pengembangan taman keanekaragaman hayati, (7) pengembangan Ciliwung sebagai destinasi wisata, dan (8) pengembangan Sungai Ciliwung sebagai suaka ikan lokal Ciliwung.

a.      Kejadian banjir di musim hujan dan krisis air di musim kemarau seperti yang terjadi saat ini merupakan indikator bahwa secara kolektif stakeholder Ciliwung gagal mengendalikan run off (aliran permukaan). Akibatnya, bagian terbesar air hujan masuk ke sungai dan menyebabkan banjir di hilir, dan karena hanya sebagian kecil air hujan yang ditampung dan diresapkan kedalam tanah selama musim hujan, maka di musim kemarau tinggi muka air tanah  turun sehingga berada di bawah dasar sumur atau tidak bisa dijangkau oleh pompa warga. Solusi untuk itu adalah dengan menggerakan aksi kolektif stakeholder dan warga DAS Ciliwung untuk membangun prasarana pengendali aliran permukaan secara massal di wilayah DAS Ciliwung. Jika prasarana pengendali aliran permukaan sudah dibangun secara massal di seluruh wilayah DAS, maka debit puncak Ciliwung bisa diturunkan dan peningkatan kapasitas sungai tidak perlu dengan membeton Ciliwung.

b.      Pengelolaan sungai  dengan pendekatan restorasi sungai merupakan kecenderungan  global. Di Amerika Serikat, misalnya, upaya pengendalian banjir dengan pembetonan sungai sudah dimulai pada tahun 1930-an. Tapi sejak tahun 1980-an  para ilmuwan dan pemerhati lingkungan di sana mulai menyadari bahwa tindakan membeton sungai merupakan tindakan keliru, tidak mempertimbangan aspek ekosistem dari sungai,  dan mulai mengembangkan konsep pengelolaan sungai dengan pendekatan ekologis. Per definisi, restorasi sungai adalah  mengembalikan sungai ke kondisi alaminya (pasal 26 PP 38/2011). Di banyak negara, restorasi sungai dilakukan dengan mengembalikan sungai-sungai yang dibeton ke kondisi alami dengan melakukan penananaman vegetasi lokal di tebing dan sempadan sungai yang sudah dihilangkan betonnya.

c.      Pengendalian limbah cair dan limbah padat yang masuk ke Ciliwung penting dilakukan karena kualitas air Ciliwung meskipun dirasakan ada perubahan tapi belum signifikan.  Menurut data KLHK, beban pencemar  di Sungai Ciliwung 84% berasal dari limbah domestik (rumah tangga). Karena setiap rumah tangga merupakan penghasil limbah cair dan limbah padat (sampah), maka setiap  rumah tangga di DAS Ciliwung harus dilibatkan. Komunitas Ciliwung yang telah beraktivitas dari hulu sampai ke hilir Ciliwung bersedia diajak bekerjasama dalam upaya pengendalian limbah cair dan sampah tersebut. Berkaitan dengan  limbah padat / sampah, disadari bahwa  kegiatan memulung sampah yang sudah terlanjur ada di sungai memang penting, tapi yang lebih strategis adalah melakukan edukasi dan menfasilitasi warga agar mengelola sampahnya dan tidak membuang sampah ke sungai. Sepanjang tidak ada alternatif, warga akan tetap menjadikan Ciliwung sebagai tempat membuang sampah.

d.      Di pasal 5 PP 38/2011 ditegaskan bahwa  sungai terdiri atas: a. palung sungai, dan b. palung sungai.  



     kewenangan penetapan sempadan dilakukan oleh Menteri PUPR. Namun sampai saat ini Menteri PUPR belum menetapkan garis sempadan Ciliwung berdasarkan tahapan yang diatur dalam peraturan perundangan yang ada (Permen PUPR No. 28/PRT/M/2015). Melalui momentum Hari Ciliwung 2015, komunitas Ciliwung mendesak Menteri PUPR untuk segera menetapkan garis sempadan Ciliwung di lapangan.  Sebagai kawasan lindung nasional dan sebagai bagian dari sungai, adalah tidak layak dan  menyalahi aturan jika di atas sempadan sungai dibangun jalan inspeksi beton. Jika mengacu pada Lampiran I Permen PUPR, sempadan Ciliwung sebagai zona riparian harus dibiarkan sealami mungkin dengan vegetasi lokal (rumput, semak, pepohonan). Dengan demikian sempadan sungai merupakan bagian dari sungai. Sempadan Ciliwung, menurut PP 26/2008, merupakan kawasan lindung nasional. Karena sempadan merupakan bagian dari sungai dan merupakan kawasan lindung, maka penetapan garis sempadan sungai yang diikuti pembuatan patok batas garis sempadan sungai merupakan kegiatan strategis. Sebagai sungai lintas provinsi,

e.      Taman keanekaragaman hayati adalah hal yang ideal yang selayaknya ada di sepanjang Ciliwung di lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk itu. Perlu komitmen yang  serius dari semua pihakterutama pemerintah untuk menjadikan lahan-lahan kosong (di luar sempadan sungai) sebagai taman keanekaragaman hayati / arboretum untuk menambah ruang terbuka hijau (RTH) kota. Slogan komunitas Ciliwung: “menyelamatkan yang tersisa” mendapatkan relevansinya dengan ikhtiar untuk membangun taman kehati di sepanjang Ciliwung. Jika tidak, lahan-lahan itu akan menjadi kawasan terbangun yang justru akan menambah beban Ciliwung. Sebagai langkah awal perlu ada prototipe taman kehati yang dibangun secara terintegrasi oleh dinas-dinas di masing-masing kota/kabupaten dan provinsi. Dengan taman kehati, semua yang ideal tentang pengelolaan lahan yang berkontribusi positif terhadap Ciliwung bisa diterapkan.

f.       Sebagai lanskap alami yang ada di tengah kota, sudah ada upaya-upaya dari Pemerintah untuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai destinasi wisata. Namun diperlukan upaya yang lebih sungguh-sungguh lagi untuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai lokasi destinasi wisata yang layak. Yang ada saat ini, barulah merupakan wisata sampah plastik. Untuk menuju ke sana, perlu ada penataan sempadan yang alami dan  hijau dengan rimbun pepohonan, perlu pengelolaan sampah yang serius sehingga sungainya bersih, perlu pengendalian limbah cair dan sedimentasi agar air sungainya jernih, perlu pengembangan infrastruktur pendukung lokasi wisata, dan perlu penguatan kapasitas warga degan kegiatan-kegiatan ekonomi yang mendukung pariswisata Ciliwung. Semuanya harus didasarkan pada kajian yang serius dengan melibatkan banyak pihak yangrelevan.

g.      Dasar penetapan hari Ciliwung adalah ditemukannya senggawangan di Ciliwung  Tanjung Barat. Namun disamping itu, ikan lokal Ciliwung adalah kekayaan keanekaragaman hayati yang harus dijaga dan dikembangkan, sebagai sumber daya genetik yang tak ternilai, juga  sebagai salah satu sumber protein warga Ciliwung. Disamping menjaganya dari upaya destruktif penggunaan racun yang dilakukan di musim kemarau, perlu dilakukan upaya-upaya konstruktif melalui perbaikan kondisi habitat ikan di Sungai Ciliwung, perbanyakan benih ikan lokal dan restocking, serta penetapan lokasi suaka ikan. Penetapan lokasi suaka ikan Ciliwung penting dilakukan untuk lebih menjamin kelangsungan hidup ikan-ikan lokal Ciliwung yang dari waktu ke waktu  makin berkurang. Adanya lokasi suaka ikan Ciliwung juga akan membangun kesadaran kolektif warga Ciliwung tentang potensi ikan lokal yang dimiliki sebagai salah satu kekayaan Ciliwung.

h.      Peninggalan masa lalu dan situs-situ yang di teliti sejak zaman belanda hingga sekarang ada 13 lokasi atau pra sejarah di Pinggiran aliran Sungai Ciliwung. Salah satunya Pengadengan, Kampung keramat, Rawa Kodok, Pejaten, Condet, Tanjung Barat dan lainnya.  Di temukan artefak berupa beliung persegi, batu serpih, manik-manik, btu asahan, fragmen logam, terak besi, gerabah dan alat pertanian zaman purba lainnya. Diperkirakan alat-alat tersebut di pergunakan pada zaman Manusia telah mengenal pertanian pada 2000 SM – 1000 SM. dan pada tahun 1000 SM – 500 SM dimana manusia telah mmapu mebuat alat-alat dari logam.

2.      Salah satu kegiatan strategis di Hari Ciliwung adalah jelajah Ciliwung dari Bojonggede  – Depok - Condet. Jika di peringatan Hari Ciliwung yang lalu, kegiatan jelajah seperti ini hanya diikuti oleh anggota komunitas, kegiatan jelajah kali  ini diharapkan akan diikuti oleh stakeholder kunci Ciliwung (Pemprov Jawa Barat, Pemprov DKI Jakarta,. Pemkab Bogor,  Pemkot Bogor dan Pemkot Depok, Kementerian LHK dan Kementerian  PUPR). Masing-masing stakeholder peserta jelajah akan mengidentifikasi permasalahan yang ada di Ciliwung sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing, sehingga program yang disusun tepat sasaran. Titik lokasi yang  akandiii\dentifikasi selama jelajah antara lain: titik tumpukan sampah, lokasi rawan longsor, lokasi okupasi sempadan, lokasi sumber pencemar, serta lokasi-lokasi yang harus dipertanahkan potensi keanekaragaman hayatinya supaya tidak dialihfungsikan. Dengan melakukan penjelajahan  bersama, mengamati bersama, dan adanya proses interaksi yang terjadi selama di penjelajahan, kegiatan ini diharapkan akan membangun modal  sosial dan  akan memperkuat komitmen dan sinergitas antar stakeholder. Dengan demikian, aksi-aksi kerja sama untuk  membuat Ciliwung lebih baik di masa datang akan lebih lancar dan sinergis.

3.      Berkaitan dengan  kegiatan normalisasi Ciliwung, momentum peringatan Hari Ciliwung 2015 ini akan digunakan untuk mengajak stakeholder kunci untuk mengamati bersama tentang kondisi yang di lapangan, khususnya di ruas 3 dan 4 (Jl. Simatupang – Condet). Dengan pengamatan bersama di lokasi  normalisasi, diharapkan akan muncul solusi yang lebih baik yang mengarah pada restorasi Ciliwung. Khusus penjelajahan di ruas ini, diharapkan ada akademisi dari perguruan tingai yang bisa terlibat yang akan memberikan pandangan berdasarkan otoritas keilmuannya.

Selamat Hari Ciliwung 2015
Selamatkan yang tersisa
Save Our Ciliwung.

11 November 2015

 Info lebih lanjut
Silahkan Hubungi
Sudirman Asun (0812-1212-5108)
Abdul Kodir (0813-8074-8996)
Sahroel Polontalo (0858-8531-7653)



























Sabtu, 28 Desember 2013

Restorasi Ciliwung Dimulai dari Masjid Istiqlal 27 Desember 2013

Restorasi Ciliwung Dimulai dari Masjid Istiqlal
27 Desember 2013


GROUNDBREAKING DEMONSTRASI PROYEK RESTORASI SUNGAI CILIWUNG
Upaya Penyelamatan Sungai Ciliwung yang dimulai dari Masjid Istiqlal

sumber : Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia

Jakarta, 27 Desember 2013. Peletakan Batu Pertama Proyek Restorasi Sungai Ciliwung hasil kerjasam Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan, resmi dilakukan Jumat tanggal 27 Desember 2013. Kerjasama kedua negara ini bertujuan untuk memulihkan kualitas Sungai Ciliwung agar lebih bersih dalam waktu yang lebih cepat. Pengalaman Korea selama 20 tahun menangani pemulihan kualitas Sungai Han menjadi pembelanjaran bagi Indonesia dalam merubah sungai yang kotor dan penyebab banjir menjadi sungai yang bersih dan pemanfaatan menjadi ruang publik.

Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam sambutannya menyampaikan "Sungai yang bersih merupakan asset bagi kita untuk dapat menjamin kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.
Hanya dengan kerja keras, komitmen dan kerjasama dengan seluruh pihak, sungai akan menjadi lebih baik. Langkah awal pemulihan Sungai Ciliwung Masjid Istiqlal,  dimana kegiatan besar ini meliputi upaya Restorasi Sungai , pembuatan Instalasi Pengolah limbah dan pembangunn Eco Education Center".
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Restorasi Sungai Ciliwung ini akan meliputi perbaikan sungai sepanjang 470 m secara ekologis seperti pengerukan lumpur sebanyak 20.000 ton, pemasangan pintu air serta perbaikan bantaran sungai dengan menggunakan tanaman (wetland). Pembuatan Instalasi Pengolah Limbah dengan kapasitas IPAL 500M3/hari dilakukan untuk memastikan limbah yang dibuang ke sungai seluruhnya diolah terlebih dahulu. Selain itu, Demonstrasi proyek ini jiga akan menjadi Eco Education Center yang menjdi pusat eukasi masyarakat untuk mempelajari restorasi sungai.
Pemilihan lokasi restorasi sungai ciliwung di maid Istiwlal yang dekat dengan gereja Katedral maupun istana presiden, menjadi sangat startegis dimana lokasi tersebut mendapat kujungan lebih dari 12 juta pengunjung setiap tahunnnya termasuk tamu-tamu negara. Hal ini akan memberikan kesan baik bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.
Apresiasi ditujukan kepada pemerintah Korea Selatan yang menunjukkan kerjassamanya yang baik dalam mewujudkan Demonstrassi Proyek Restorasi Sungai Ciliwung ini. Kegiatan ini adalah tindak lanjut penandatanganan MoU antara Kemetrian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia dengan Kementrian Lingkungan Hidup Korea Selatan, bersama Korea Enviromental Industry and Technology Institute (KEITI) dan The Korea International Cooperation Agency (KOICA) yang dimulai tahun 2012. Besar investasi dalam proyeksi ini terdiri dari : (i) bantuan Kementrian Lingkungan Hidup Republik Korea Selatan untuk desai dan bantuan teknis sebesar USD 2 juta, (ii) bantuan KOICA untuk konstruksi sebesar USD 5 juta, dan (iii) Kementrian Lingkungan Hidup Republlik Indonesia sebesar Rp 10 Milyar sebagai pendamping yang untuk memastika program ini sesuai keinginan pihak Indonesia.
Upaya pemulihan Kualitas Sungai Ciliwung yang termasuk kategori tercemar berat mulai dari hulu sampai dengan hilir perlu melibatkan berbagai pihak. Untuk itu Pemerintah Indonesia yang meliputi KLH, Kementrian Pekerjaan Umum, BAPPENAS, Kementrian Agama dan Pemerinth Provinsi DKI akan terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti masyarakat, paar pakar sungai , pelaku usaha termasuk dengan negara-negara sahabat untuk mengelola sungai di Indonesia dengan baik.

Hari Ciliwung

Hari Ciliwung
Klik pada gambar

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top